Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Pendataan Door to Door untuk Memverifikasi Status Pendidikan Anak Tidak Sekolah di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Pendataan Door to Door untuk Memverifikasi Status Pendidikan Anak Tidak Sekolah di Desa Celep

 

Dokumentasi Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan pendataan secara door to door untuk memverifikasi status pendidikan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep.
Sumber: Dokimentasi Pribadi


wirausahanesia.comSRAGEN, 7 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS) secara door to door di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memverifikasi kembali status pendidikan anak berdasarkan data ATS yang tersedia sejak tahun 2023.

Data ATS yang menjadi acuan dalam kegiatan ini merupakan data tahun 2023 sehingga diperlukan pengecekan kembali untuk mengetahui kondisi terkini. Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah anak yang tercatat dalam data tersebut masih tidak bersekolah atau telah kembali melanjutkan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN melakukan kunjungan secara langsung dari rumah ke rumah berdasarkan daftar data ATS yang tersedia. Mahasiswa melakukan konfirmasi kepada orang tua atau anggota keluarga mengenai status pendidikan anak pada saat pendataan.
 
Pendataan dilakukan dengan mencatat informasi berdasarkan hasil konfirmasi di lapangan. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengetahui kesesuaian antara data ATS tahun 2023 dengan kondisi pendidikan anak saat ini.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam membantu proses pemutakhiran data pendidikan di tingkat desa. Hasil verifikasi diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih aktual mengenai status pendidikan anak yang sebelumnya tercatat dalam data ATS.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap hasil pendataan dapat menjadi bahan informasi bagi pihak terkait dalam melakukan pemantauan dan menentukan langkah selanjutnya terhadap anak yang masih berada dalam kondisi tidak sekolah.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pengumpulan dan pengecekan kembali data hasil pendataan dari masing-masing rumah. Hasil verifikasi tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pemutakhiran data ATS di Desa Celep.



Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Pendataan Door to Door untuk Memverifikasi Status Pendidikan Anak Tidak Sekolah di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Pendataan Door to Door untuk Memverifikasi Status Pendidikan Anak Tidak Sekolah di Desa Celep


Dokumentasi Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan pendataan secara door to door untuk memverifikasi status pendidikan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep.
Sumber: Dokimentasi Pribadi


wirausahanesia.comSRAGEN, 7 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS) secara door to door di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memverifikasi kembali status pendidikan anak berdasarkan data ATS yang tersedia sejak tahun 2023.

Data ATS yang menjadi acuan dalam kegiatan ini merupakan data tahun 2023 sehingga diperlukan pengecekan kembali untuk mengetahui kondisi terkini. Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah anak yang tercatat dalam data tersebut masih tidak bersekolah atau telah kembali melanjutkan pendidikan.

Pendataan dilakukan dengan mencatat informasi berdasarkan hasil konfirmasi di lapangan. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengetahui kesesuaian antara data ATS tahun 2023 dengan kondisi pendidikan anak saat ini.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam membantu proses pemutakhiran data pendidikan di tingkat desa. Hasil verifikasi diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih aktual mengenai status pendidikan anak yang sebelumnya tercatat dalam data ATS.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap hasil pendataan dapat menjadi bahan informasi bagi pihak terkait dalam melakukan pemantauan dan menentukan langkah selanjutnya terhadap anak yang masih berada dalam kondisi tidak sekolah.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pengumpulan dan pengecekan kembali data hasil pendataan dari masing-masing rumah. Hasil verifikasi tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pemutakhiran data ATS di Desa Celep.



Penulis: 
Rifky Tegar Musyafa

Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah melalui Pendataan Langsung di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah melalui Pendataan Langsung di Desa Celep

 

Dokumentasi Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan pendataan secara door to door untuk memverifikasi status pendidikan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep.
Sumber: Dokimentasi Pribadi

wirausahanesia.comSRAGEN, 7 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan verifikasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui pendataan langsung dari rumah ke rumah di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperoleh data pendidikan yang lebih sesuai dengan kondisi terkini di masyarakat.

Pendataan tersebut berangkat dari adanya data ATS yang telah tersedia sejak tahun 2023. Seiring berjalannya waktu, status pendidikan anak dapat mengalami perubahan. Anak yang sebelumnya tercatat tidak sekolah dapat kembali menempuh pendidikan, sehingga diperlukan pengecekan secara langsung untuk memastikan kondisi terbaru.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN melakukan kunjungan ke sejumlah rumah yang tercantum dalam data awal. Proses verifikasi dilakukan dengan berkomunikasi bersama orang tua atau keluarga untuk memperoleh keterangan mengenai status pendidikan anak yang bersangkutan.

Pendekatan door to door memungkinkan mahasiswa memperoleh informasi secara langsung dari pihak keluarga. Setiap informasi yang diperoleh kemudian dicatat dan disesuaikan dengan data yang telah tersedia sebelumnya.

Proses pendataan meliputi pengecekan identitas anak serta konfirmasi mengenai kondisi pendidikannya saat ini. Dari hasil tersebut, dapat diketahui apakah anak masih berada dalam kategori tidak sekolah atau telah melanjutkan pendidikan.

Kegiatan verifikasi ini menghasilkan informasi terbaru yang dapat digunakan sebagai bahan pemutakhiran data ATS Desa Celep. Dengan adanya pengecekan lapangan, data yang sebelumnya bersumber dari tahun 2023 dapat dibandingkan dengan kondisi aktual yang ditemukan pada saat kegiatan berlangsung.

Pendataan secara langsung juga menjadi langkah penting dalam mengurangi ketidaksesuaian antara data administrasi dan kondisi masyarakat. Informasi yang telah diverifikasi diharapkan dapat membantu pihak terkait memperoleh gambaran yang lebih aktual mengenai kondisi pendidikan anak di Desa Celep.

Bagi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro, kegiatan ini menjadi bentuk keterlibatan dalam mendukung proses administrasi dan pemutakhiran data pendidikan di tingkat desa. Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam melakukan pengumpulan serta verifikasi data secara langsung di lapangan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap data hasil verifikasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar informasi bagi pihak terkait dalam menentukan langkah selanjutnya, khususnya terhadap anak yang masih belum memperoleh akses pendidikan.

Kegiatan kemudian diakhiri dengan pengecekan kembali data yang telah dikumpulkan dari setiap rumah yang dikunjungi. Hasil pendataan selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pemutakhiran informasi Anak Tidak Sekolah di Desa Celep.



Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Turut Memperbarui Data Anak Tidak Sekolah melalui Kunjungan Rumah di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Turut Memperbarui Data Anak Tidak Sekolah melalui Kunjungan Rumah di Desa Celep

 

Dokumentasi Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan pendataan secara door to door untuk memverifikasi status pendidikan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep.
Sumber: Dokimentasi Pribadi


wirausahanesia.comSRAGEN, 7 Agustus 2026 – Upaya memperoleh data pendidikan yang lebih aktual dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melalui kegiatan pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Pendataan dilaksanakan secara door to door pada Jumat, 7 Agustus 2026, dengan mendatangi langsung rumah anak yang tercantum dalam data ATS.

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan kunjungan rumah untuk mengonfirmasi status pendidikan anak dalam kegiatan pemutakhiran data ATS di Desa Celep.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengacu pada data ATS yang tersedia sejak tahun 2023. Mengingat data tersebut sudah tidak mencerminkan kondisi terbaru secara keseluruhan, diperlukan pengecekan lapangan untuk mengetahui adanya perubahan status pendidikan anak.

Melalui kunjungan langsung, mahasiswa melakukan konfirmasi kepada orang tua atau anggota keluarga mengenai kondisi pendidikan anak yang tercantum dalam daftar. Informasi yang diperoleh meliputi status pendidikan anak pada saat pendataan, sehingga dapat diketahui apakah anak masih tidak bersekolah atau telah melanjutkan pendidikan.
 
Metode door to door digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung dari keluarga. Selain melakukan konfirmasi, mahasiswa juga mencatat hasil pendataan berdasarkan keterangan yang diberikan oleh pihak keluarga dan mencocokkannya dengan data awal.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pemutakhiran data ATS di Desa Celep. Hasil pengecekan lapangan dapat memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi pendidikan anak sejak data tersebut terakhir diperbarui pada tahun 2023.

Data yang telah diverifikasi selanjutnya dapat menjadi bahan informasi bagi pihak terkait dalam melihat kondisi pendidikan anak di Desa Celep. Khususnya, informasi tersebut dapat membantu mengidentifikasi anak yang masih tercatat sebagai tidak sekolah dan membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Bagi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro, kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap pengelolaan data pendidikan di tingkat desa. Pendataan secara langsung juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam melakukan verifikasi informasi administratif berdasarkan kondisi nyata di masyarakat.

Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan data ATS yang tersedia dapat menjadi lebih akurat dan sesuai dengan kondisi terkini. Pemutakhiran informasi juga dapat mendukung pihak terkait dalam menentukan langkah yang diperlukan untuk membantu anak yang masih berada di luar sistem pendidikan.

Setelah seluruh kunjungan selesai dilakukan, mahasiswa melakukan rekapitulasi terhadap informasi yang telah diperoleh dari masyarakat. Hasil tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan pembaruan data Anak Tidak Sekolah di Desa Celep.Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap data hasil verifikasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar informasi bagi pihak terkait dalam menentukan langkah selanjutnya, khususnya terhadap anak yang masih belum memperoleh akses pendidikan.

Kegiatan kemudian diakhiri dengan pengecekan kembali data yang telah dikumpulkan dari setiap rumah yang dikunjungi. Hasil pendataan selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pemutakhiran informasi Anak Tidak Sekolah di Desa Celep.


Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Kenalkan dan Ajarkan Pajak Pertambahan Nilai Melalui Kegiatan Ecoprint Kepada Siswa SD Celep 5

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Kenalkan dan Ajarkan Pajak Pertambahan Nilai Melalui Kegiatan Ecoprint Kepada Siswa SD Celep 5



wirausahanesia.comCELEP, SRAGEN, 1 Agustus 2026 – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Celep mengajak siswa kelas 5 dan 6 SD Negeri 5 Celep mengenal lingkungan, kewirausahaan, dan perpajakan melalui kegiatan kreatif ecoprint. Kegiatan yang diikuti sekitar 40 siswa tersebut dilaksanakan pada Sabtu (1/8) di SD Negeri 5 Celep, Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen.

Kegiatan bertajuk “Program Edukasi Lingkungan, Kewirausahaan Kreatif, dan Pengenalan Pajak melalui Kegiatan Ecoprint” merupakan program kerja multidisiplin yang menggabungkan beberapa bidang keilmuan dalam satu rangkaian kegiatan. Program tersebut terdiri atas pengenalan pemilahan sampah, praktik ecoprint, pengenalan kewirausahaan melalui perbandingan harga, serta pengenalan perpajakan secara sederhana.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan pemilahan sampah dan kegiatan interaktif untuk membangun pemahaman siswa mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik ecoprint menggunakan bahan alami sehingga siswa dapat secara langsung menghasilkan karya dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Setelah menghasilkan karya ecoprint, siswa diperkenalkan pada konsep sederhana mengenai nilai ekonomi suatu produk. Melalui kegiatan perbandingan harga, siswa diajak memahami bahwa sebuah produk memiliki biaya dan nilai jual yang perlu dipertimbangkan sebelum dipasarkan.

Pada sesi terakhir, Arfa Dhia Hanania, mahasiswa Akuntansi Perpajakan, memberikan pendampingan mengenai pengenalan pajak melalui simulasi penjualan hasil karya ecoprint. Siswa diajak menghitung secara sederhana nilai penjualan dari karya yang telah dibuat serta memahami hubungan antara kegiatan ekonomi, pajak, dan manfaat pajak dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin mengenalkan pajak melalui sesuatu yang dekat dengan aktivitas anak-anak. Setelah mereka membuat sendiri karya ecoprint, mereka dapat melihat bahwa sebuah karya juga memiliki nilai ekonomi ketika dijual. Dari situ, kami mengenalkan secara sederhana bahwa dalam kegiatan ekonomi terdapat aspek perpajakan yang juga perlu dipahami,” ujar Arfa.


 

Sebagai bagian dari kegiatan, siswa juga memperoleh Kartu Wajib Pajak Cilik sebagai media edukasi dan simulasi pengenalan administrasi perpajakan. Kartu tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan siswa sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan konsep kepatuhan administrasi perpajakan sejak dini.

Kegiatan mendapat respons positif dari pihak sekolah. Pihak SD Negeri 5 Celep menyambut baik kegiatan yang menggabungkan edukasi lingkungan, kreativitas, kewirausahaan, dan pengenalan pajak dalam satu rangkaian pembelajaran. Pendekatan berbasis praktik dinilai dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret bagi siswa.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berharap siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga mulai mengenal proses sederhana di balik suatu produk, mulai dari pemanfaatan bahan, pembuatan karya, hingga nilai ekonominya. Pengenalan pajak melalui simulasi juga diharapkan dapat menjadi pengalaman awal bagi siswa untuk memahami peran pajak dalam kehidupan masyarakat.


Penulis/Reporter: Arfa Dhia Hanania
Fotografer: Marshanda Kinanti
Kontak Media: afadhiah2@gmail.com
Editor: Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Dampingi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan Pengelolaan Aset Guna Tingkatkan Potensi Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Dampingi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan Pengelolaan Aset Guna Tingkatkan Potensi Desa Celep




wirausahanesia.comCELEP, SRAGEN, 6 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Celep melaksanakan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani dan ternak Desa Celep dalam mengembangkan pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sekaligus memperkuat pengelolaan ekonomi dan administrasi kelompok. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (6/8) di Pendopo Balai Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen.

Kegiatan multidisiplin tersebut terdiri atas Pelatihan dan Pendampingan Tata Kelola Administrasi BUMDes serta Pelatihan dan Pendampingan Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Peternakan Menuju Pertanian Berkelanjutan. Kegiatan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dengan menggabungkan aspek teknologi pengolahan limbah, pengelolaan usaha, dan administrasi dalam mendukung potensi pertanian Desa Celep.

Salah satu mahasiswa yang terlibat, Arfa Dhia Hanania dari Program Studi Akuntansi Perpajakan, memberikan pendampingan yang berfokus pada perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pengenalan pajak untuk UMKM, serta pendampingan pencatatan aset Gapoktan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu kelompok tani memahami nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan sekaligus meningkatkan keteraturan administrasi kelompok.

Pendampingan diawali dengan pengenalan konsep Harga Pokok Produksi (HPP). Peserta diajak mengidentifikasi berbagai biaya yang diperlukan dalam menghasilkan suatu produk, mulai dari bahan yang digunakan hingga biaya pendukung produksi. Setelah komponen biaya diidentifikasi, peserta kemudian didampingi untuk menghitung total biaya produksi dan menentukan HPP secara sederhana berdasarkan contoh produk yang dihasilkan dalam kegiatan pemanfaatan limbah.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai cara menghitung biaya produksi, tetapi juga dapat mengetahui berapa biaya yang sebenarnya diperlukan untuk menghasilkan suatu produk. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi kelompok dalam mempertimbangkan harga jual produk apabila hasil pengolahan limbah nantinya dikembangkan menjadi kegiatan yang bernilai ekonomi.

Setelah pendampingan HPP, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan pajak UMKM secara sederhana. Materi disampaikan dengan menghubungkan kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat dengan aspek perpajakan yang mungkin muncul ketika kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha. Pendekatan ini dilakukan agar peserta dapat memahami bahwa pencatatan dan perhitungan usaha merupakan bagian penting dalam mempersiapkan pengelolaan usaha yang lebih tertib.

“Kami ingin pendampingan ini dimulai dari hal yang paling dekat dengan kegiatan kelompok, yaitu menghitung biaya produksi dan HPP. Setelah mengetahui biaya produksinya, masyarakat bisa lebih mudah memahami bagaimana menentukan nilai jual dan mengenal aspek perpajakan apabila kegiatan tersebut nantinya berkembang menjadi usaha,” ujar Arfa.

Selain aspek perhitungan dan perpajakan, Arfa juga melakukan pendampingan pengisian Kartu Inventaris Aset Gapoktan. Peserta diarahkan untuk mendata aset dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan kelompok, termasuk alat komposter yang digunakan dalam proses pemanfaatan limbah. Pendataan dilakukan dengan mencatat informasi seperti nama aset, jumlah, kondisi, lokasi penyimpanan, serta keterangan lain yang diperlukan.

Pendataan inventaris tersebut diharapkan dapat membantu Gapoktan mengetahui aset yang dimiliki, memantau kondisi peralatan, serta mengurangi risiko aset tidak terdata atau tidak terpantau penggunaannya. Kartu inventaris juga dirancang agar dapat digunakan kembali oleh kelompok dalam melakukan pembaruan data secara berkala.

Pada rangkaian kegiatan lainnya, mahasiswa dari bidang saintek memberikan pendampingan dalam pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan melalui pengolahan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Kolaborasi tersebut mempertemukan aspek produksi dan teknologi pengolahan dengan aspek perhitungan ekonomi dan administrasi, sehingga hasil kegiatan tidak hanya berhenti pada pembuatan produk.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berharap Gapoktan Desa Celep dapat menerapkan perhitungan HPP secara sederhana dalam kegiatan produksi, memiliki pemahaman awal mengenai aspek perpajakan ketika usaha berkembang, serta melanjutkan pencatatan aset secara berkala. Dengan demikian, pemanfaatan potensi limbah pertanian dan peternakan dapat didukung oleh pengelolaan ekonomi dan administrasi yang lebih tertib.


Penulis/Reporter: Arfa Dhia Hanania
Fotografer: Marshanda Kinanti
Kontak Media: afadhiah2@gmail.com 
Editor: Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep




wirausahanesia.comCELEP, SRAGEN, 25 Juli 2026 – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Celep melaksanakan kegiatan verifikasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Sabtu (25/7). Kegiatan dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh anggota tim dengan membagi mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan verifikasi data secara langsung kepada ketua Rukun Tetangga (RT) di wilayah Desa Celep.

Kegiatan verifikasi ATS dilaksanakan sebagai upaya untuk memperoleh data pendidikan anak yang lebih akurat berdasarkan kondisi terkini di masing-masing wilayah. Verifikasi dilakukan dengan melibatkan ketua RT sebagai pihak yang mengetahui kondisi masyarakat di lingkungan setempat, sehingga data yang diperoleh dapat dibandingkan dan dikonfirmasi secara langsung.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing bertanggung jawab melakukan verifikasi pada wilayah RT yang telah ditentukan. Setiap kelompok melakukan komunikasi dengan ketua RT untuk menanyakan keberadaan dan kondisi pendidikan anak yang tercatat dalam data awal, termasuk status sekolah dan perubahan kondisi yang mungkin terjadi.

Proses verifikasi dilakukan melalui wawancara dan pencocokan informasi dengan kondisi yang diketahui oleh ketua RT. Data yang diperoleh kemudian dicatat oleh mahasiswa dan dikelompokkan berdasarkan hasil konfirmasi di lapangan. Pembagian tugas tersebut memungkinkan seluruh anggota tim untuk terlibat secara langsung sekaligus memperluas jangkauan wilayah pendataan.

 
Berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan, seluruh siswa yang berhasil dikonfirmasi diketahui masih bersekolah. Dalam prosesnya, mahasiswa juga menemukan beberapa kondisi yang memerlukan pembaruan data, seperti terdapat siswa yang telah pindah sekolah serta terdapat anak dengan kondisi disabilitas sejak lahir. Temuan tersebut menjadi bagian dari hasil pemutakhiran informasi yang diperoleh melalui verifikasi bersama ketua RT.

“Kegiatan ini kami lakukan untuk memastikan kembali kondisi anak berdasarkan informasi terbaru dari masing-masing wilayah. Dari hasil verifikasi, seluruh siswa yang berhasil kami konfirmasi masih bersekolah, sementara terdapat beberapa data yang perlu diperbarui, seperti siswa yang sudah pindah sekolah dan anak dengan kondisi tertentu,” ujar Arfa.

Kegiatan verifikasi juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya ketelitian dalam pendataan sosial masyarakat. Informasi yang diperoleh tidak hanya berkaitan dengan status sekolah, tetapi juga membantu mahasiswa melihat kondisi pendidikan masyarakat secara lebih nyata melalui komunikasi langsung dengan lingkungan tempat tinggal anak.

Hasil verifikasi tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan dokumentasi dan pemutakhiran data ATS Desa Celep. Dengan adanya proses verifikasi secara langsung, diharapkan data yang tersedia dapat lebih sesuai dengan kondisi aktual masyarakat dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan.


Penulis/Reporter: Arfa Dhia Hanania
Fotografer: Naysa Aurelia
Kontak Media: afadhiah2@gmail.com 
Editor: Achmad Munandar
Dari Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi, KKN-T 106 UNDIP Ajak Warga Pedurungan Tengah Lebih Kreatif Kelola Limbah

Dari Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi, KKN-T 106 UNDIP Ajak Warga Pedurungan Tengah Lebih Kreatif Kelola Limbah

Warga RT 04/RW 06 Kelurahan Pedurungan Tengah mengikuti pelatihan pembuatan lilin  aromaterapi berbahan minyak jelantah yang diselenggarakan oleh Mahasiswa KKN-T 106  Universitas Diponegoro.


wirausahanesia.comSemarang  –  Mahasiswa  Kuliah  Kerja  Nyata  Tematik  (KKN-T)  Tim  106  Universitas  Diponegoro  mengadakan  pelatihan  pembuatan  lilin  aromaterapi  berbahan  minyak  jelantah  bagi  warga  RW  06  Kelurahan  Pedurungan  Tengah,  Kecamatan  Pedurungan,  Kota  Semarang,  pada  Sabtu  (25/7/2026).  Kegiatan  ini  bertujuan  membekali  masyarakat  dengan  keterampilan  mengolah  minyak  jelantah  menjadi  produk  yang  lebih  bermanfaat  sehingga  limbah  rumah  tangga tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai. 

Masih  banyak  masyarakat  yang  membuang  minyak  jelantah  ke  saluran  air  atau  menggunakannya  kembali  untuk  memasak.  Padahal,  kebiasaan  tersebut  dapat  mencemari  lingkungan  sekaligus  meningkatkan  risiko  gangguan  kesehatan.  Berangkat  dari  kondisi  tersebut,  mahasiswa  KKN-T  106  UNDIP  menghadirkan  pelatihan  yang  mengajarkan  cara  mengolah  minyak  jelantah  menjadi  lilin  aromaterapi  menggunakan  bahan  yang  mudah  diperoleh dan proses yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah. 

Pelatihan  diawali  dengan  penyampaian  materi  mengenai  dampak  penggunaan  minyak  jelantah  terhadap  kesehatan  dan  lingkungan.  Setelah  itu,  peserta  mengikuti  praktik  pembuatan  lilin  aromaterapi  mulai  dari  proses  penyaringan  minyak,  penjernihan,  pencampuran  bahan,  penambahan  pewarna  dan  essential  oil,  hingga  proses  pencetakan.  Seluruh  peserta  terlibat  secara  langsung  dalam  setiap  tahapan  sehingga  mampu  memahami  proses  pembuatan  produk  secara menyeluruh. 

 
 Mahasiswa KKN-T 106 Universitas Diponegoro mendampingi warga RW 06 Kelurahan 
 Pedurungan Tengah mempraktikkan pembuatan lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah. 
 
Suasana  pelatihan  berlangsung  aktif  dan  interaktif.  Peserta  tidak  hanya  mengikuti  arahan,  tetapi  juga  berdiskusi  mengenai  pengelolaan  minyak  jelantah  di  rumah  serta  peluang  mengembangkannya  menjadi  produk  yang  bermanfaat.  Antusiasme  tersebut  menunjukkan  tingginya  minat  masyarakat  untuk  memanfaatkan  limbah  rumah  tangga  menjadi  produk  yang  memiliki nilai tambah. 

Ketua  RT  04/RW  06  Kelurahan  Pedurungan  Tengah  mengapresiasi  pelatihan  yang  diberikan  oleh  mahasiswa  KKN-T  106  UNDIP  karena  memberikan  pengetahuan  sekaligus  keterampilan  baru  bagi  warga.  

"Selama  ini  banyak  warga  yang  belum  mengetahui  bahwa  minyak  jelantah  masih  bisa  dimanfaatkan  menjadi  produk  yang  berguna.  Setelah  mengikuti  pelatihan  ini,  warga  jadi  lebih  paham  cara  mengolahnya  dan  bisa  langsung  mempraktikkannya  di  rumah.  Kami  berharap  kegiatan  seperti  ini  dapat  terus  berlanjut  sehingga  semakin  banyak  warga  yang  sadar  pentingnya  mengelola  minyak  jelantah dengan benar,"  ujarnya. 

Koordinator  program,  Zafira Salsabila,  mengatakan  bahwa  pelatihan  ini  dirancang  agar  masyarakat  memperoleh  solusi  praktis  dalam  mengelola  limbah  rumah  tangga.  

"Kami  berharap  pelatihan  ini  tidak  berhenti  pada  saat  kegiatan  berlangsung.  Warga  dapat  mempraktikkannya  kembali  di  rumah,  bahkan  mengembangkannya  menjadi  produk  kreatif  yang  memiliki  nilai  ekonomi.  Dengan  begitu,  minyak  jelantah  yang  sebelumnya  dianggap  sebagai  limbah  dapat  memberikan  manfaat  bagi  masyarakat  sekaligus  membantu menjaga lingkungan,"  jelasnya. 

 
Produk Lilin Aromaterapi Minyak Jelantah yang dihasilkan oleh Mahasiswa KKN-T 106  UNDIP bersama Pertamina Patra Niaga. 
 
Pelatihan  ini  memberikan  pengalaman  baru  bagi  peserta  sekaligus  meningkatkan  keterampilan  masyarakat  dalam  mengolah  minyak  jelantah  secara  mandiri.  Selain  mengurangi  potensi  pencemaran  lingkungan,  pemanfaatan  minyak  jelantah  menjadi  lilin  aromaterapi  juga  membuka  peluang  lahirnya  produk  kreatif  berbasis  rumah  tangga  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk  kebutuhan  pribadi  maupun  dikembangkan  sebagai  peluang  usaha  skala kecil. 

Melalui  kolaborasi  antara  mahasiswa  KKN-T  106  Universitas  Diponegoro  dan  masyarakat  RW  06  Kelurahan  Pedurungan  Tengah,  kegiatan  ini  menunjukkan  bahwa  edukasi  yang  disertai  praktik  langsung  mampu  mendorong  perubahan  cara  pandang  masyarakat  terhadap  pengelolaan  limbah  rumah  tangga.  Program  ini  turut  berkontribusi  terhadap  pencapaian  Sustainable  Development  Goals  (SDGs),  khususnya  SDG  3  (Good  Health  and  Well-being), SDG  11  (Sustainable  Cities  and  Communities),  SDG  12  (Responsible  Consumption  and Production),  dan  SDG  13  (Climate  Action).  Diharapkan  keterampilan  yang  telah  diperoleh  peserta  dapat  terus  diterapkan  sehingga  minyak  jelantah  tidak  lagi  menjadi  limbah  yang  mencemari lingkungan, melainkan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. 



Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN UNDIP Dorong Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Briket Bio-Arang di Desa Celep

Mahasiswa KKN UNDIP Dorong Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Briket Bio-Arang di Desa Celep

 

Dokumentasi kegiatan pemberian policy 
Sumber: Dokumentasi Pribadi

wirausahanesia.comSragen, 06 Agustus 2026 - Rifky Hendra Raviano Syaputra, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro atau KKN Undip Desa Celep 2026, melaksanakan program multidisiplin berupa penyusunan dan penyampaian policy brief kepada Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes terkait pemanfaatan limbah sekam padi menjadi briket bio arang. Program ini dihadirkan sebagai upaya mendorong pengelolaan potensi lokal desa agar memiliki nilai tambah ekonomi, sekaligus mendukung praktik lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Undip dalam menghadirkan solusi aplikatif bagi masyarakat desa. Melalui forum bersama pihak desa dan BUMDes, Rifky menyampaikan materi mengenai urgensi pengolahan sekam padi, tahapan produksi briket bio arang, peluang pemasaran, serta manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat diperoleh apabila program ini dikembangkan secara konsisten.

Dalam policy brief yang disusun, pemanfaatan sekam padi diarahkan sebagai strategi transformasi limbah pertanian menjadi produk energi terbarukan. Sekam padi yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa produksi pertanian memiliki peluang untuk diolah menjadi briket bio-arang, yaitu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pelaku usaha kuliner, hingga kegiatan produktif masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pertanian tersebut dapat berubah menjadi komoditas desa yang bernilai jual.

 
Rifky menjelaskan bahwa persoalan sekam padi tidak hanya berkaitan dengan penumpukan limbah, tetapi juga menyangkut peluang ekonomi yang belum sepenuhnya tergarap. Apabila sekam padi hanya dibuang atau dibakar secara terbuka, desa tidak hanya kehilangan potensi nilai tambah, tetapi juga menghadapi risiko pencemaran udara dan gangguan kesehatan masyarakat. Karena itu, pengolahan sekam padi menjadi briket bio-arang dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Briket bio arang dari sekam padi memiliki sejumlah keunggulan. Produk ini dapat menjadi alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, memiliki pembakaran yang relatif stabil, dan menghasilkan asap yang lebih minim dibandingkan pembakaran limbah secara langsung. Selain itu, bahan bakunya tersedia secara lokal sehingga proses produksi berpeluang dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat desa dengan dukungan kelembagaan yang kuat.

Policy brief tersebut juga menekankan pentingnya peran BUMDes sebagai lembaga penggerak utama dalam pengembangan program. BUMDes dapat menjadi motor kelembagaan yang mengoordinasikan pasokan bahan baku, mengelola proses produksi, menjaga kualitas produk, serta membuka akses pemasaran. Dengan model tersebut, program tidak hanya berhenti sebagai kegiatan edukasi, melainkan dapat berkembang menjadi unit usaha desa yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Secara implementatif, program ini dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari edukasi masyarakat, penguatan kelembagaan, penyediaan sarana produksi, hingga strategi pemasaran. Tahap edukasi diarahkan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai bahaya pembakaran terbuka dan potensi ekonomi sekam padi. Tahap kelembagaan difokuskan pada penguatan peran BUMDes, sementara tahap produksi mencakup kebutuhan peralatan seperti alat pengarangan, alat pencetak briket, dan perangkat pendukung lainnya. Pada tahap pemasaran, produk briket dapat diarahkan kepada pelaku usaha kuliner, rumah makan, industri kecil, maupun pasar energi alternatif.

Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan penandatanganan dokumen sebagai bentuk penguatan komitmen terhadap gagasan pemanfaatan sekam padi. Dokumentasi kegiatan menunjukkan proses penandatanganan yang berlangsung di ruang pertemuan desa, disertai pemaparan materi yang menjadi dasar rekomendasi kebijakan. Momen ini menjadi simbol bahwa inovasi berbasis potensi lokal membutuhkan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat.

Melalui program multidisiplin ini, mahasiswa KKN Undip tidak hanya menjalankan peran akademik di tengah masyarakat, tetapi juga berupaya mendorong lahirnya kebijakan desa yang aplikatif. Penyusunan policy brief menjadi instrumen penting untuk merangkum permasalahan, menawarkan solusi, serta memberikan arah kebijakan yang dapat ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan di tingkat desa.

Rifky berharap rekomendasi yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah desa dan BUMDes dalam mengembangkan unit usaha berbasis pengolahan limbah pertanian. Menurutnya, Desa Celep memiliki peluang untuk membangun model ekonomi sirkular yang sederhana namun berdampak, yakni dengan mengubah sisa hasil pertanian menjadi produk energi bernilai jual.

Program ini juga sejalan dengan semangat pembangunan desa berkelanjutan. Pemanfaatan sekam padi menjadi briket bio arang dapat membantu mengurangi pencemaran akibat pembakaran limbah, membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan desa, serta memperkuat kemandirian energi lokal. Jika dikelola secara konsisten, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu produk unggulan Desa Celep yang berdaya saing dan ramah lingkungan.

Dengan adanya inisiatif ini, Desa Celep diharapkan mampu melihat limbah pertanian sebagai aset produktif. Keterlibatan mahasiswa KKN Undip menjadi pemantik awal bagi lahirnya gerakan pengelolaan sumber daya lokal yang lebih kreatif, ekonomis, dan berkelanjutan. Dari sekam padi yang sering dianggap tidak bernilai, Desa Celep memiliki peluang untuk menghasilkan energi alternatif sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa.


Kontak penulis:
- Rifky Hendra Raviano Syaputra
- Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro 2026 Desa Celep, Sragen
- Email / Telepon: rvianosyptr@gmsil.com


Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN UNDIP Susun SOP BUMDES “Maju Bersama” untuk Optimalkan Investasi Lahan di Desa Celep

Mahasiswa KKN UNDIP Susun SOP BUMDES “Maju Bersama” untuk Optimalkan Investasi Lahan di Desa Celep

Dokumentasi kegiatan penyampaian materi SOP BUMDES 
untuk optimalkan investasi lahan di desa celep Dokumentasi: Pribadi


wirausahanesia.comSragen, 06 Agustus 2026 - Baru baru ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro 2026, Rifky Hendra Raviano Syaputra, mempresentasikan draft Standard Operating Procedure (SOP) tata kelola unit usaha pertanian BUMDes “MAJU BERSAMA” di aula Desa Celep. Inisiatif ini bertujuan memaksimalkan pemanfaatan aset lahan desa melalui model investasi lahan yang berpihak pada pemberdayaan petani lokal dan peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).

SOP yang dipaparkan memuat model bisnis investasi lahan yang jelas: BUMDes bertindak sebagai investor dan penyedia aset lahan, sedangkan petani lokal berperan sebagai pelaksana operasional di lapangan. Dokumen berisi mekanisme kemitraan, pembagian peran, dan skema bagi hasil yang transparan serta terukur untuk menjamin keadilan bagi semua pihak. Selain itu, SOP mengatur prosedur administratif termasuk pencatatan, pengelolaan kas, dan tata cara pertanggungjawaban finansial.

Rangkaian alur kerja dalam SOP mencakup identifikasi dan validasi lahan, penandatanganan perjanjian kemitraan, perencanaan teknis budidaya, pelaksanaan produksi, hingga pemasaran hasil panen. Rifky menekankan pentingnya indikator kinerja utama (KPI) misalnya produktivitas per hektare, tingkat serapan biaya, dan persentase pendapatan yang dibagikan kepada pemilik lahan sebagai tolok ukur evaluasi implementasi. Pengawasan berkala dan pelaporan rutin kepada pengurus BUMDes serta pihak desa juga menjadi bagian yang wajib dilaksanakan.
 
“Kami merancang SOP ini agar pengelolaan investasi lahan berjalan profesional dan akuntabel, sehingga manfaat ekonomi benar benar dirasakan oleh pemilik lahan dan petani mitra,” terang, Rifky saat presentasi. Ia menambahkan bahwa dokumen ini merupakan hasil kerja tim multidisiplin KKN Undip yang menggabungkan aspek manajerial, teknis pertanian, dan penguatan kelembagaan desa.

Kehadiran warga dan pengurus desa pada sesi sosialisasi menunjukkan respon positif. Beberapa tokoh masyarakat menyampaikan harapan agar SOP segera direvisi berdasarkan masukan warga dan diimplementasikan melalui pilot project untuk membuktikan keberlanjutan model investasi lahan ini. Tim KKN juga merencanakan pelatihan teknis bagi petani mitra serta monitoring awal pada masa tanam perdana sebagai langkah awal implementasi.

Dokumen SOP yang disusun mencakup pula matriks tugas dan fungsi kelembagaan, alur administrasi keuangan, serta format laporan yang dapat langsung digunakan oleh pengurus BUMDes. Jika pilot project berjalan baik, model ini berpotensi direplikasi di desa desa lain sebagai praktik baik pengelolaan investasi lahan berbasis BUMDes.



Kontak penulis:
- Rifky Hendra Raviano Syaputra
- Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro 2026 Desa Celep, Sragen
- Email / Telepon: rvianosyptr@gmsil.com

Editor:
Achmad Munandar