Mahasiswa KKN UNDIP Dorong Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Briket Bio-Arang di Desa Celep
Berita KKNDokumentasi kegiatan pemberian policy
Sumber: Dokumentasi Pribadi
wirausahanesia.com - Sragen, 06 Agustus 2026 - Rifky Hendra Raviano Syaputra, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro atau KKN Undip Desa Celep 2026, melaksanakan program multidisiplin berupa penyusunan dan penyampaian policy brief kepada Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes terkait pemanfaatan limbah sekam padi menjadi briket bio arang. Program ini dihadirkan sebagai upaya mendorong pengelolaan potensi lokal desa agar memiliki nilai tambah ekonomi, sekaligus mendukung praktik lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Undip dalam menghadirkan solusi aplikatif bagi masyarakat desa. Melalui forum bersama pihak desa dan BUMDes, Rifky menyampaikan materi mengenai urgensi pengolahan sekam padi, tahapan produksi briket bio arang, peluang pemasaran, serta manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat diperoleh apabila program ini dikembangkan secara konsisten.
Dalam policy brief yang disusun, pemanfaatan sekam padi diarahkan sebagai strategi transformasi limbah pertanian menjadi produk energi terbarukan. Sekam padi yang selama ini kerap dipandang sebagai sisa produksi pertanian memiliki peluang untuk diolah menjadi briket bio-arang, yaitu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pelaku usaha kuliner, hingga kegiatan produktif masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pertanian tersebut dapat berubah menjadi komoditas desa yang bernilai jual.
Rifky menjelaskan bahwa persoalan sekam padi tidak hanya berkaitan dengan penumpukan limbah, tetapi juga menyangkut peluang ekonomi yang belum sepenuhnya tergarap. Apabila sekam padi hanya dibuang atau dibakar secara terbuka, desa tidak hanya kehilangan potensi nilai tambah, tetapi juga menghadapi risiko pencemaran udara dan gangguan kesehatan masyarakat. Karena itu, pengolahan sekam padi menjadi briket bio-arang dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Briket bio arang dari sekam padi memiliki sejumlah keunggulan. Produk ini dapat menjadi alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, memiliki pembakaran yang relatif stabil, dan menghasilkan asap yang lebih minim dibandingkan pembakaran limbah secara langsung. Selain itu, bahan bakunya tersedia secara lokal sehingga proses produksi berpeluang dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat desa dengan dukungan kelembagaan yang kuat.
Policy brief tersebut juga menekankan pentingnya peran BUMDes sebagai lembaga penggerak utama dalam pengembangan program. BUMDes dapat menjadi motor kelembagaan yang mengoordinasikan pasokan bahan baku, mengelola proses produksi, menjaga kualitas produk, serta membuka akses pemasaran. Dengan model tersebut, program tidak hanya berhenti sebagai kegiatan edukasi, melainkan dapat berkembang menjadi unit usaha desa yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Secara implementatif, program ini dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari edukasi masyarakat, penguatan kelembagaan, penyediaan sarana produksi, hingga strategi pemasaran. Tahap edukasi diarahkan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai bahaya pembakaran terbuka dan potensi ekonomi sekam padi. Tahap kelembagaan difokuskan pada penguatan peran BUMDes, sementara tahap produksi mencakup kebutuhan peralatan seperti alat pengarangan, alat pencetak briket, dan perangkat pendukung lainnya. Pada tahap pemasaran, produk briket dapat diarahkan kepada pelaku usaha kuliner, rumah makan, industri kecil, maupun pasar energi alternatif.
Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan penandatanganan dokumen sebagai bentuk penguatan komitmen terhadap gagasan pemanfaatan sekam padi. Dokumentasi kegiatan menunjukkan proses penandatanganan yang berlangsung di ruang pertemuan desa, disertai pemaparan materi yang menjadi dasar rekomendasi kebijakan. Momen ini menjadi simbol bahwa inovasi berbasis potensi lokal membutuhkan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, BUMDes, dan masyarakat.
Melalui program multidisiplin ini, mahasiswa KKN Undip tidak hanya menjalankan peran akademik di tengah masyarakat, tetapi juga berupaya mendorong lahirnya kebijakan desa yang aplikatif. Penyusunan policy brief menjadi instrumen penting untuk merangkum permasalahan, menawarkan solusi, serta memberikan arah kebijakan yang dapat ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan di tingkat desa.
Rifky berharap rekomendasi yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah desa dan BUMDes dalam mengembangkan unit usaha berbasis pengolahan limbah pertanian. Menurutnya, Desa Celep memiliki peluang untuk membangun model ekonomi sirkular yang sederhana namun berdampak, yakni dengan mengubah sisa hasil pertanian menjadi produk energi bernilai jual.
Program ini juga sejalan dengan semangat pembangunan desa berkelanjutan. Pemanfaatan sekam padi menjadi briket bio arang dapat membantu mengurangi pencemaran akibat pembakaran limbah, membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan desa, serta memperkuat kemandirian energi lokal. Jika dikelola secara konsisten, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu produk unggulan Desa Celep yang berdaya saing dan ramah lingkungan.
Dengan adanya inisiatif ini, Desa Celep diharapkan mampu melihat limbah pertanian sebagai aset produktif. Keterlibatan mahasiswa KKN Undip menjadi pemantik awal bagi lahirnya gerakan pengelolaan sumber daya lokal yang lebih kreatif, ekonomis, dan berkelanjutan. Dari sekam padi yang sering dianggap tidak bernilai, Desa Celep memiliki peluang untuk menghasilkan energi alternatif sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa.
Kontak penulis:
- Rifky Hendra Raviano Syaputra
- Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro 2026 Desa Celep, Sragen
- Email / Telepon: rvianosyptr@gmsil.com
Editor:
Achmad Munandar
Achmad Munandar
