Dukung Kualitas Pendidikan, Program Kerja Sosial Gelar Pendampingan Belajar Akuntansi dan Perpajakkan bagi Siswa SMK Perintis 29 Ungaran

Dukung Kualitas Pendidikan, Program Kerja Sosial Gelar Pendampingan Belajar Akuntansi dan Perpajakkan bagi Siswa SMK Perintis 29 Ungaran



wirausahanesia.comLangensari (29/07/2026) - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 82 Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja pengabdian masyarakat di SMK Perintis 29 Ungaran, Kelurahan Langensari, Kabupaten Semarang. Program ini berfokus pada penguatan literasi keuangan dan wawasan profesional bagi siswa, dengan sasaran utama siswa Program Studi Akuntansi dan Akuntansi Perpajakan, agar pendidikan vokasi yang mereka tempuh semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang dinamis.

Program mengajar ini dilaksanakan oleh tiga mahasiswa, yaitu Angelica Paulina Hanni dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis program studi Akuntansi, serta Hanifah Putri Tanty dan Davin Ardyka Pradana dari Sekolah Vokasi program studi Akuntansi Perpajakan. Ketiganya berbagi peran dalam menyampaikan materi kepada para siswa selama kegiatan berlangsung.


Penguatan Literasi dan Praktik Akuntansi
Pada bidang studi akuntansi, materi yang diajarkan berfokus pada akuntansi perusahaan jasa, mulai dari pengenalan konsep dasar, penyusunan jurnal umum, pencatatan ke buku besar, penyusunan neraca saldo sebelum disesuaikan (unadjusted trial balance), hingga pembuatan jurnal penyesuaian. Selain memaparkan tahapan siklus akuntansi tersebut, mahasiswa KKN-T 82 juga mengupas siklus akuntansi berbasis digital yang saat ini menjadi standar di berbagai perusahaan.

Siswa turut diajak membedah studi kasus nyata mengenai pengelolaan arus kas (cash flow) dan penyusunan laporan keuangan sederhana. Melalui diskusi interaktif, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami bagaimana ketelitian dan integritas data keuangan menjadi pilar utama dalam menjaga kredibilitas sebuah bisnis atau organisasi.


Edukasi Dasar Akuntansi Perpajakan
Pada bidang akuntansi perpajakan, mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai pentingnya kesadaran pajak sejak dini. Materi yang disampaikan mencakup dasar-dasar pemungutan pajak, pentingnya kepatuhan pajak (tax compliance), serta pemahaman mengenai jenis-jenis pajak yang umum dijumpai di dunia kerja. Mengingat pentingnya peran pajak dalam pembangunan nasional, mahasiswa juga mendemonstrasikan bagaimana fungsi akuntansi perpajakan yang akurat dapat membantu perusahaan melakukan efisiensi pajak secara legal dan etis.

Rangkaian materi akuntansi dan perpajakan ini disusun agar siswa memiliki bekal pemahaman yang komprehensif dan lebih siap pakai ketika kelak terjun ke dunia kerja maupun dunia usaha.


Harapan Keberlanjutan Program
Melalui pelaksanaan program ini, mahasiswa KKN-T 82 Universitas Diponegoro berharap dapat berkontribusi dalam mencetak generasi akuntan masa depan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas tinggi. Kegiatan ini juga menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat, sekaligus sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat. Program ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat sinergi antara dunia akademis dan kebutuhan dunia usaha di Kabupaten Semarang.



Penulis:
Mahasiswa KKN-T 82 Universitas Diponegoro
Angelica Paulina Hanni - Fakultas Ekonomika dan Bisnis (Akuntansi)
Hanifah Putri Tanty, Davin Ardyka Pradana - Sekolah Vokasi (Akuntansi & Perpajakan)

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswi KKN Undip Kenalkan Bahasa dan Budaya Jepang kepada Siswa SMP di Desa Celep

Mahasiswi KKN Undip Kenalkan Bahasa dan Budaya Jepang kepada Siswa SMP di Desa Celep




wirausahanesia.comSragen, 31 Juli 2026 - Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro Tahun 2026, Shafa Nur Alliyah, melaksanakan program kerja individu bertajuk “Kenalan dengan Jepang”, sebuah kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Jepang bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini merupakan salah satu wujud implementasi keilmuan Shafa dari Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Universitas Diponegoro.


Mengenalkan Jepang Sejak Usia Sekolah
Program “Kenalan dengan Jepang” lahir dari keinginan Shafa untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang secara sederhana namun menarik kepada anak-anak usia sekolah. Sasaran program ini dipilih pada jenjang SMP karena pada usia tersebut anak-anak dinilai sudah cukup mampu memahami dan menyerap materi bahasa asing dasar, sekaligus masih berada pada masa yang tepat untuk membangun ketertarikan terhadap budaya lain sejak dini. Program ini turut mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnership for the Goals).


Jalannya Kegiatan
Kegiatan dikemas dalam bentuk penyampaian materi interaktif menggunakan media power point yang telah disiapkan Shafa, mencakup kosakata dasar bahasa Jepang mulai dari salam, perkenalan diri, angka, istilah seputar sekolah, ekspresi sehari-hari, nama warna, sebutan anggota keluarga, hari dan waktu, nama-nama hewan, nama makanan, hingga kata kerja dan kata tanya sederhana. Selain pengenalan kosakata, siswa juga diajak mengenal sekilas budaya Jepang agar pembelajaran bahasa tidak berdiri sendiri, melainkan dipahami dalam konteks kebudayaannya.

Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat antusias mengikuti setiap sesi, terutama saat diajak mempraktikkan langsung pelafalan kosakata bahasa Jepang yang baru mereka pelajari. Suasana belajar dibangun secara komunikatif agar siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga berani mencoba berbicara menggunakan kosakata sederhana yang telah diperkenalkan.


Harapan Keberlanjutan
Melalui program ini, Shafa berharap dapat menumbuhkan ketertarikan siswa SMP di Desa Celep terhadap bahasa dan budaya asing, khususnya bahasa Jepang, sekaligus membuka wawasan mereka terhadap keberagaman budaya dunia. Program ini juga diharapkan dapat menjadi bekal awal maupun motivasi bagi siswa yang ingin mempelajari bahasa Jepang lebih lanjut di jenjang pendidikan berikutnya.



Penulis: Shafa Nur Alliyah (Mahasiswi KKN Tim II Universitas Diponegoro 2026)
Lokasi KKN: SMPN 1 Kedawung, Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
Editor: Achmad Munandar

#KKNUndip #P2KKN #LPPMUndip #Undip2026 #DesaCelep #KenalanDenganJepang #BahasaJepang #BudayaJepang
Susuri Rumah Warga, Tim KKN Undip Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah di Desa Celep

Susuri Rumah Warga, Tim KKN Undip Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah di Desa Celep




wirausahanesia.comSragen, 7 Agustus 2026 - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) II Universitas Diponegoro Tahun 2026 turun langsung mendatangi rumah-rumah warga di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, untuk melakukan verifikasi data Anak Tidak Sekolah (ATS). Kegiatan yang dilakukan secara door to door ini diikuti oleh seluruh anggota tim, salah satunya Shafa Nur Alliyah, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang.


Menindaklanjuti Data Lama
Kegiatan ini berangkat dari data ATS milik desa yang sudah tercatat sejak tahun 2023, namun belum pernah diperbarui atau dicocokkan kembali dengan kondisi terkini warga. Tim KKN menilai data yang tidak diperbarui berpotensi menimbulkan kekeliruan, misalnya anak yang sebenarnya sudah kembali bersekolah masih tercatat sebagai ATS, atau sebaliknya. Atas dasar itu, tim memutuskan untuk mendatangi satu per satu rumah warga yang namanya tercantum dalam data tersebut guna memastikan keakuratan informasi sebelum diserahkan kembali kepada pihak desa.


Proses Pendataan di Lapangan
Dalam kegiatan ini, tim membagi tugas untuk mendatangi alamat-alamat yang telah dipetakan sebelumnya berdasarkan data dari perangkat desa. Setiap kunjungan diisi dengan wawancara singkat kepada orang tua atau wali murid mengenai status pendidikan anak saat ini, alasan apabila anak tidak atau belum bersekolah, serta kendala yang dihadapi keluarga terkait akses pendidikan. Hasil wawancara tersebut kemudian dicatat sebagai bahan pembaruan data ATS di Desa Celep.

Shafa menuturkan, pendekatan door to door dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan pendataan berbasis laporan semata. Dengan bertemu langsung warga, tim dapat memperoleh gambaran yang lebih riil mengenai kondisi anak-anak yang selama ini masuk dalam kategori ATS, sekaligus membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan keluarga terkait.


Harapan Tindak Lanjut
Data hasil verifikasi rencananya akan diserahkan kepada perangkat Desa Celep sebagai bahan pertimbangan untuk penanganan lebih lanjut terhadap anak-anak yang masih belum bersekolah. Tim KKN berharap kegiatan ini dapat membantu desa dalam merumuskan langkah yang lebih tepat sasaran, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak di Desa Celep.


Penulis: Shafa Nur Alliyah (Mahasiswi KKN Tim II Universitas Diponegoro 2026)
Lokasi KKN: Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
Editor: Achmad Munandar

#KKNUndip #P2KKN #LPPMUndip #Undip2026 #DesaCelep #ATS #AnakTidakSekolah #PendataanDoorToDoor
Mahasiswi KKN Universitas Diponegoro Perkenalkan Filosofi Mottainai (もったいない) untuk Bangun Budaya Hidup Hemat dan Minim Limbah di Desa Celep

Mahasiswi KKN Universitas Diponegoro Perkenalkan Filosofi Mottainai (もったいない) untuk Bangun Budaya Hidup Hemat dan Minim Limbah di Desa Celep




wirausahanesia.comSragen, 6 Agustus 2026 - Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro Tahun 2026, Shafa Nur Alliyah, melaksanakan program kerja multi disiplin II berupa “Sosialisasi Budaya Mottainai (もったいない) sebagai Pendekatan Kultural dalam Membangun Kesadaran Hidup Hemat dan Minim Limbah” bagi  warga Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini digelar di Balai Desa Celep dan diikuti oleh para kelompok tani.

Program ini lahir karena melihat potenis – potensi limbah pertanian seperti kotoran kambing dan sekam padi, kemudian melihat limbah rumah tangga seperti air cucian beras. Melihat hal ini kemudian Tim KKN desa Celep berkolaborasi dalam pemanfaatan kulit bawang merah sebagai pestisida, lalu pemanfaatan air cucian beras dan kotoran kambing menjadi POC (pupuk organik cair), kemudian pembuatan briket dari sekam Padi. 

Berangkat dari persoalan tersebut, Shafa memilih pendekatan yang berbeda dari sosialisasi lingkungan pada umumnya: bukan sekadar imbauan “jangan boros” atau “jangan buang sampah sembarangan”, melainkan memperkenalkan sebuah nilai budaya dari Jepang yang disebut Mottainai.


Mengenal Mottainai, Filosofi Hidup Hemat dari Jepang
Mottainai (もったいない) adalah ungkapan dalam bahasa Jepang yang secara kasar berarti “sayang sekali” atau “terlalu berharga untuk disia-siakan”. Ungkapan ini biasa diucapkan orang Jepang ketika melihat sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan justru dibuang begitu saja, baik itu makanan, barang, waktu, maupun tenaga. 

Menurut penjelasan Shafa dalam sosialisasi tersebut, nilai Mottainai umumnya dirangkum dalam empat prinsip yang saling berkaitan: Reduce (mengurangi pemakaian berlebih), Reuse (memakai kembali barang yang masih layak), Recycle (mendaur ulang), dan Respect (menghormati/menghargai nilai suatu barang atau sumber daya).

Melalui sosialisasi ini, Shafa berupaya menunjukkan bahwa kesadaran hidup hemat dan rendah limbah tidak harus dibangun lewat aturan atau larangan yang terkesan menggurui, tetapi bisa ditumbuhkan lewat pendekatan kultural yang lebih membumi dan mudah diterima secara emosional oleh warga.


Jalannya Kegiatan
Sosialisasi dikemas dalam bentuk dengan media penjelasan melalui power point, dilengkapi dengan media berupa leaflet yang berisikan budaya Mottainai dan pemanfaatannya di lingkungan sekitar. Peserta diajak melihat ulang kebiasaan rumah tangga masing-masing, misalnya menghitung berapa banyak sisa makanan yang biasa terbuang dalam sepekan, atau barang-barang di rumah yang sebenarnya masih bisa diperbaiki dan dipakai kembali alih-alih langsung dibuang. Beberapa warga turut berbagi pengalaman soal kebiasaan hemat yang sudah lama mereka terapkan secara turun-temurun, yang oleh Shafa dikaitkan kembali dengan semangat Mottainai.


Harapan Keberlanjutan
Melalui program ini, Shafa berharap warga Desa Celep tidak hanya memahami istilah Mottainai secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kebiasaan sehari-hari -  mulai dari memilah sampah rumah tangga, mengelola sisa makanan, hingga lebih bijak dalam berbelanja dan menggunakan barang. Program ini juga diharapkan dapat mendukung upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production).

Sebagai tindak lanjut, leaflet kebudayaan Mottainai diberikan kepada para kelompok tani agar dapat terus diakses dan dibaca ulang oleh warga meski kegiatan sosialisasi telah usai.


Penulis: Shafa Nur Alliyah (Mahasiswi KKN Tim II Universitas Diponegoro 2026)
Lokasi KKN: Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
Editor: Achmad Munandar

#KKNUndip #P2KKN #LPPMUndip #Undip2026 #DesaCelep #Mottainai #HidupHemat #MinimLimbah

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Verifikasi Data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep




wirausahanesia.comCELEP, SRAGEN, 25 Juli 2026 – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Celep melaksanakan kegiatan verifikasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Sabtu (25/7). Kegiatan dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh anggota tim dengan membagi mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan verifikasi data secara langsung kepada ketua Rukun Tetangga (RT) di wilayah Desa Celep.

Kegiatan verifikasi ATS dilaksanakan sebagai upaya untuk memperoleh data pendidikan anak yang lebih akurat berdasarkan kondisi terkini di masing-masing wilayah. Verifikasi dilakukan dengan melibatkan ketua RT sebagai pihak yang mengetahui kondisi masyarakat di lingkungan setempat, sehingga data yang diperoleh dapat dibandingkan dan dikonfirmasi secara langsung.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing bertanggung jawab melakukan verifikasi pada wilayah RT yang telah ditentukan. Setiap kelompok melakukan komunikasi dengan ketua RT untuk menanyakan keberadaan dan kondisi pendidikan anak yang tercatat dalam data awal, termasuk status sekolah dan perubahan kondisi yang mungkin terjadi.

Proses verifikasi dilakukan melalui wawancara dan pencocokan informasi dengan kondisi yang diketahui oleh ketua RT. Data yang diperoleh kemudian dicatat oleh mahasiswa dan dikelompokkan berdasarkan hasil konfirmasi di lapangan. Pembagian tugas tersebut memungkinkan seluruh anggota tim untuk terlibat secara langsung sekaligus memperluas jangkauan wilayah pendataan.

Berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan, seluruh siswa yang berhasil dikonfirmasi diketahui masih bersekolah. Dalam prosesnya, mahasiswa juga menemukan beberapa kondisi yang memerlukan pembaruan data, seperti terdapat siswa yang telah pindah sekolah serta terdapat anak dengan kondisi disabilitas sejak lahir. Temuan tersebut menjadi bagian dari hasil pemutakhiran informasi yang diperoleh melalui verifikasi bersama ketua RT.
 
“Kegiatan ini kami lakukan untuk memastikan kembali kondisi anak berdasarkan informasi terbaru dari masing-masing wilayah. Dari hasil verifikasi, seluruh siswa yang berhasil kami konfirmasi masih bersekolah, sementara terdapat beberapa data yang perlu diperbarui, seperti siswa yang sudah pindah sekolah dan anak dengan kondisi tertentu,” ujar Arfa.

Kegiatan verifikasi juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya ketelitian dalam pendataan sosial masyarakat. Informasi yang diperoleh tidak hanya berkaitan dengan status sekolah, tetapi juga membantu mahasiswa melihat kondisi pendidikan masyarakat secara lebih nyata melalui komunikasi langsung dengan lingkungan tempat tinggal anak.

Hasil verifikasi tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan dokumentasi dan pemutakhiran data ATS Desa Celep. Dengan adanya proses verifikasi secara langsung, diharapkan data yang tersedia dapat lebih sesuai dengan kondisi aktual masyarakat dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
 


Penulis/Reporter: Marshanda Kinanti Rachmadhani
Fotografer: Naysa Aurelia
Kontak Media: afadhiah2@gmail.com
Editor: Achmad Munandar
Mahasiswa KKN UNDIP Kenalkan Konsep Wirausaha Sejak Dini melalui “Pasar Bos Cilik”

Mahasiswa KKN UNDIP Kenalkan Konsep Wirausaha Sejak Dini melalui “Pasar Bos Cilik”




wirausahanesia.comMahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kegiatan edukasi kewirausahaan kepada siswa sekolah dasar kelas 4–5 melalui program “Bos Cilik: Belajar Wirausaha Sejak Dini”. Kegiatan ini dirancang secara interaktif untuk memperkenalkan konsep dasar kewirausahaan, produk lokal, serta kegiatan jual beli kepada siswa melalui metode belajar sambil bermain.

Kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai wirausaha melalui berbagai contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti penjual makanan, pedagang buah, dan penjual jajanan. Siswa juga diajak untuk memahami bahwa barang yang mereka temui sehari-hari dapat berasal dari bahan mentah yang kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa KKN memberikan contoh perubahan bahan mentah menjadi produk jadi, seperti singkong yang diolah menjadi keripik singkong, pisang menjadi keripik pisang, serta tempe menjadi keripik tempe. Siswa kemudian diajak berdiskusi mengenai alasan mengapa harga produk yang telah diolah dapat menjadi lebih tinggi dibandingkan harga bahan mentahnya.

“Kalau singkong diolah menjadi keripik, menurut kalian kenapa harganya bisa lebih mahal?” menjadi salah satu pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendorong mereka berpikir mengenai proses produksi dan nilai tambah suatu produk.

Selain penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi transaksi jual beli melalui permainan “Pasar Bos Cilik”. Sebanyak 40 siswa dibagi menjadi delapan kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh satu mahasiswa KKN sebagai fasilitator.

Dalam permainan tersebut, setiap kelompok memperoleh modal sebesar Rp50.000. Siswa kemudian diberikan daftar harga berbagai produk lokal, seperti tomat, stroberi, telur, cabai, jeruk, mangga, tempe, tahu, dan singkong. Setiap kelompok mendapatkan misi belanja yang berbeda dan harus menghitung jumlah uang yang harus dibayarkan serta uang kembalian yang diterima.

Permainan dilakukan dengan sistem kompetisi. Setelah soal dibacakan oleh pemandu, setiap kelompok berdiskusi untuk menentukan jawaban. Kelompok yang paling cepat maju ke meja penjual dan memberikan jawaban yang tepat akan mendapatkan satu poin.

Melalui permainan tersebut, siswa tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar mengambil keputusan, bekerja sama dengan anggota kelompok, berkomunikasi dalam melakukan transaksi, serta memahami pentingnya ketelitian ketika menggunakan uang.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menanamkan pengetahuan dasar mengenai kewirausahaan kepada siswa sejak dini. Selain itu, pengenalan berbagai produk lokal juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa ketertarikan dan apresiasi siswa terhadap potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Melalui konsep “Bos Cilik”, mahasiswa KKN UNDIP ingin menunjukkan bahwa belajar kewirausahaan tidak harus selalu dilakukan melalui teori. Dengan permainan sederhana dan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa dapat belajar mengenal jual beli, menghitung uang, memahami nilai suatu produk, serta mengembangkan keberanian untuk memiliki dan mencoba ide-ide kreatif sejak usia dini.


Oleh: Marshanda Kinanti Rachmadhani
Fotografer: Shakila Nawra
Kontak Media / Humas Kelompok: kknundip.desacelep
Editor: Achmad Munandar
Mahasiswa KKN UNDIP Susun Company Profile untuk Mendukung Pengembangan BUMDes Desa Celep

Mahasiswa KKN UNDIP Susun Company Profile untuk Mendukung Pengembangan BUMDes Desa Celep

 

Dokumentasi penyerahan company profile oleh Marshanda Kinanti Rachmadhani

wirausahanesia.comSragen, Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melaksanakan salah satu program kerja di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, berupa penyusunan Company Profile BUMDes Desa Celep. Program kerja ini dilakukan sebagai upaya untuk membantu BUMDes memiliki media informasi yang dapat memperkenalkan identitas serta potensi usaha secara lebih terstruktur dan profesional.

Company profile merupakan dokumen profesional yang memuat gambaran mengenai identitas, legalitas, visi dan misi, tata kelola, serta potensi bisnis suatu lembaga usaha. Bagi BUMDes, company profile tidak hanya berfungsi sebagai dokumen formal, tetapi juga menjadi wajah resmi organisasi di hadapan masyarakat, pemerintah, dan calon mitra.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN menyusun company profile yang diharapkan dapat menjadi sarana bagi BUMDes Desa Celep untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat dan pihak eksternal. Penyusunan company profile juga menjadi bagian dari upaya membangun citra BUMDes yang lebih profesional dan mudah dikenali.

Keberadaan company profile memiliki beberapa manfaat penting bagi BUMDes. Di antaranya adalah meningkatkan kepercayaan mitra, membangun branding usaha, meningkatkan transparansi kepada publik, serta membantu dalam menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan informasi yang tersusun secara jelas, BUMDes dapat lebih mudah memperkenalkan potensi dan kegiatan usahanya kepada pihak yang berkepentingan.

Selain sebagai media informasi, company profile juga dapat dimanfaatkan sebagai berkas pendukung ketika BUMDes mengajukan proposal kerja sama maupun perizinan. Dokumen tersebut juga dapat digunakan untuk memperkenalkan potensi sektor dan komoditas unggulan desa kepada calon pembeli strategis.

Tidak hanya itu, company profile dapat menjadi acuan bagi pengurus BUMDes dalam menjalankan dan mengembangkan usaha. Dokumen ini juga berfungsi sebagai media untuk mendokumentasikan transformasi serta pencapaian BUMDes secara sistematis dari tahun ke tahun.

Melalui program kerja tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berharap company profile yang disusun dapat memberikan manfaat bagi BUMDes Desa Celep, khususnya dalam meningkatkan profesionalisme, memperkuat branding, memperkenalkan potensi desa, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

Penyusunan company profile ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendukung pengembangan potensi Desa Celep. Dengan adanya media informasi yang lebih terstruktur, diharapkan BUMDes dapat memiliki dokumen yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan usaha dan memperkenalkan potensi desa secara lebih luas.



Penulis: Marshanda Kinanti Rachmadhani
Fotografer: Shakila Nawra
Kontak Media / Humas Kelompok: kknundip.desacelep
Editor: Achmad Munandar
Atasi Anak Tidak Sekolah, Mahasiswa KKN Undip Gelar Pendampingan Khusus di Desa Celep

Atasi Anak Tidak Sekolah, Mahasiswa KKN Undip Gelar Pendampingan Khusus di Desa Celep

 
Dokumentasi Pendampingan Anak Tidak Sekolah

wirausahanesia.comCELEP (07/08/26) - Mahasiswa KKN R Desa Celep dari Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro melalui Shakila Nawra Ramadhina melaksanakan program Fasilitator Pendekatan Persuasif Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui kunjungan rumah atau door to door kepada anak yang termasuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) beserta keluarganya. Kegiatan ini bertujuan menggali faktor penyebab anak tidak bersekolah sekaligus memberikan motivasi dan edukasi mengenai pentingnya pendidikan serta alternatif layanan pendidikan yang tersedia.

Program ini dilaksanakan sebagai bentuk pendekatan secara personal kepada anak dan keluarga yang termasuk dalam kategori ATS. Kunjungan rumah dipilih agar mahasiswa dapat membangun komunikasi secara lebih dekat, memahami kondisi yang dihadapi anak, serta menggali faktor yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya melakukan pendataan atau kunjungan, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dengan memberikan motivasi kepada anak dan keluarga. Edukasi mengenai pentingnya pendidikan disampaikan dengan pendekatan yang lebih persuasif sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing anak dan keluarganya.

Shakila Nawra Ramadhina menjelaskan bahwa pendekatan personal diperlukan untuk memahami permasalahan ATS secara lebih mendalam.

"Melalui kunjungan secara langsung, kami dapat berkomunikasi dengan anak dan keluarga secara lebih dekat. Harapannya, kami dapat memahami faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah sekaligus memberikan motivasi dan informasi mengenai alternatif pendidikan yang dapat ditempuh."

Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui kunjungan rumah (door to door) kepada anak yang masuk dalam kategori ATS. Dalam setiap kunjungan, mahasiswa melakukan komunikasi dengan anak dan keluarga untuk menggali kondisi serta faktor yang menjadi penyebab anak tidak bersekolah.

Setelah memperoleh informasi mengenai kondisi anak, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan. Anak dan keluarga juga diberikan informasi mengenai alternatif layanan pendidikan yang tersedia sehingga terdapat pilihan yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pendekatan persuasif tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran anak dan keluarga mengenai pentingnya keberlanjutan pendidikan. Selain itu, komunikasi langsung diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan anak secara lebih tepat.

Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN untuk mendukung penanganan Anak Tidak Sekolah di Desa Celep. Dengan adanya pendekatan langsung kepada keluarga, diharapkan anak yang belum memperoleh akses pendidikan dapat kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan melalui layanan yang sesuai.

Kegiatan selanjutnya dapat dilakukan melalui kunjungan lanjutan/koordinasi dengan pemerintah desa/pendampingan anak menuju layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.



Penulis/Reporter: Shakila Nawra Ramadhina (Kimia 2023, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro)
Fotografer: Hanna 
Kontak Media / Humas Kelompok: kknundip.desacelep
Editor: Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Undip Olah Limbah Kulit Bawang Merah Menjadi Pestisida Ramah Lingkungan

Mahasiswa KKN Undip Olah Limbah Kulit Bawang Merah Menjadi Pestisida Ramah Lingkungan

 

Dokumentasi pemaparan kepada GAPOKTAN Desa Celep

wirausahanesia.comSragen, 6 Agustus 2026 – Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II dari Universitas Diponegoro sukses menyelenggarakan program kerja Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Merah Sebagai Bahan Dasar Utama Dalam Pembuatan Pestisida Ramah Lingkungan yang bertempat di Balai Desa, Desa Celep, Kecamatan Kedawung, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Program edukasi ini digelar guna menekan penggunaan pestisida kimia sintetis sekaligus memanfaatkan limbah bumbu dapur menjadi solusi pembasmi hama tanaman yang aman, efektif, dan hemat biaya bagi masyarakat setempat.

Kegiatan diawali dengan pemaparan latar belakang masalah di Desa Celep, di mana sebagian besar warga masih bergantung pada pestisida kimia yang berpotensi merusak kualitas tanah dan kesehatan lingkungan. Mahasiswa memaparkan bahwa kulit bawang merah mengandung senyawa aktif seperti acetogenin, flavonoid, dan saponin yang mampu bertindak sebagai racun kontak alami bagi hama serangga. 


Dokumentasi produk kepada GAPOKTAN Desa Celep

Dalam peragaan langsung, para mahasiswa mengedukasi warga cara mengekstrak kulit bawang merah melalui proses perendaman air selama 24 - 48 jam hingga menghasilkan cairan pembasmi hama alami yang siap semprot.

Langkah ini mendapat apresiasi positif dari tokoh masyarakat setempat. 

"Pelatihan ini memberikan wawasan baru bagi warga Celep. Selain mudah dibuat dari limbah dapur, pestisida organik ini membantu menjaga kesehatan tanaman pekarangan tanpa harus merogoh kocek untuk beli obat kimia," ujar perwakilan kelompok tani Desa Celep. 

Melalui inisiatif ini, masyarakat diharapkan dapat menerapkan pembuatan pestisida mandiri demi mendukung pertanian skala rumah tangga yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, penyerahan botol sampel pestisida kulit bawang merah secara simbolis kepada perangkat desa, serta pemberian poster panduan pembuatan pestisida organik kepada ketua GAPOKTAN.



Penulis/Reporter: Shakila Nawra Ramadhina (Kimia 2023, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro)
Fotografer: Marshanda Kinanti Rachmadhani
Kontak Media / Humas Kelompok: kknundip.desacelep
Editor: Achmad Munandar
KKN Undip Edukasi Warga Desa Celep Manfaatkan Air Cucian Beras Jadi Pupuk Organik

KKN Undip Edukasi Warga Desa Celep Manfaatkan Air Cucian Beras Jadi Pupuk Organik

 
Dokumentasi dengan Perangkat Desa dan Kelompok GAPOKTAN Desa Celep


wirausahanesia.comSragen, 6 Agustus 2026 - Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II dari Universitas Diponegoro sukses menyelenggarakan program kerja Pemanfaatan Limbah Air Beras Sebagai Media Tumbuh & Sumber Nutrisi Dalam Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang bertempat di Balai Desa, Desa Celep, Kecamatan Kedawung, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Program ini digelar guna mengedukasi masyarakat lokal mengenai pengelolaan limbah dapur menjadi pupuk ramah lingkungan yang mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus menghemat biaya perawatan tanaman.

Latar belakang pelaksanaan program ini didasari oleh melimpahnya limbah air cucian beras rumah tangga di Desa Celep yang selama ini dibuang tanpa dimanfaatkan. Padahal, limbah tersebut kaya akan nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat dibutuhkan tanaman. Dalam praktiknya, para mahasiswa memperagakan secara langsung proses fermentasi sederhana dengan mencampurkan air cucian beras, molase atau gula jawa sebagai sumber energi mikroba, serta larutan EM4. Warga yang mendominasi jalannya acara tampak antusias menyimak dan mempraktikkan tiap tahapan pembuatan POC tersebut.

Ketua RT setempat mengapresiasi tinggi inisiatif yang dibawakan oleh para mahasiswa. 

"Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warga kami. Selain mengurangi sampah rumah tangga, hasilnya bisa langsung dipakai untuk tanaman pekarangan tanpa harus membeli pupuk kimia," ujarnya di sela-sela kegiatan. 

Melalui program ini, masyarakat diharapkan mampu secara mandiri memproduksi pupuk organik guna mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga.

Acara reportase ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, penyerahan modul panduan pembuatan POC secara simbolis kepada perangkat desa, serta pembagian sampel produk pupuk organik cair yang telah siap pakai kepada para peserta pelatihan.



Penulis/Reporter: Shakila Nawra Ramadhina (Kimia 2023, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro)
Fotografer: Marshanda Kinanti Rachmadhani
Kontak Media / Humas Kelompok: kknundip.desacelep
Editor: Achmad Munandar