Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Pembuatan Cetakan Briket Manual sebagai Upaya Pemanfaatan Limbah Sekam Padi di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Pembuatan Cetakan Briket Manual sebagai Upaya Pemanfaatan Limbah Sekam Padi di Desa Celep

 

Foto dokumentasi Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melaukan Proses Pembuatan Cetakan Briket Manual Berbahan Besi Hollow Sebagai Bagian Dari Program Pemanfaatan Limbah Sekam Padi. 
Sumber: Dokumentasi Pribadi

wirausahanesia.comSRAGEN, 30 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja Pembuatan Cetakan Briket Manual sebagai Upaya Pemanfaatan Limbah Sekam Padi di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Kamis, 30 Juli 2026. Program kerja ini menghasilkan luaran berupa satu unit cetakan briket manual berbahan besi hollow yang digunakan untuk membantu proses pencetakan briket berbahan dasar sekam padi.

Kegiatan ini diinisiasi berdasarkan adanya potensi limbah sekam padi di lingkungan Desa Celep yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sekam padi sebagai salah satu limbah hasil pengolahan pertanian memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna, salah satunya melalui pengolahan menjadi briket.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro membuat cetakan briket manual dengan memanfaatkan besi hollow sebagai bahan utama. Alat dibuat dengan konstruksi sederhana dan mekanisme manual sehingga dapat digunakan tanpa membutuhkan sumber energi listrik. Cetakan tersebut dirancang untuk membantu proses pembentukan dan pemadatan bahan sekam padi menjadi briket.

 
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa pembuatan alat tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi sekam padi yang tersedia di lingkungan desa. “Kami melihat adanya limbah sekam padi yang dapat dimanfaatkan menjadi briket. Oleh karena itu, kami membuat cetakan briket manual menggunakan besi hollow agar proses pencetakan dapat dilakukan dengan alat yang sederhana dan mudah digunakan,” ujarnya

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan menentukan bentuk dan ukuran cetakan yang akan dibuat. Selanjutnya, mahasiswa menyiapkan material berupa besi hollow dan melakukan pengukuran serta pemotongan sesuai dengan rancangan. Bagian-bagian besi hollow kemudian disusun dan disambungkan hingga membentuk cetakan briket manual.

Dokumentasi alat cetakan briket yang dibuat menggunakan material besi hollow sebagai sarana pendukung dalam proses pencetakan briket dari sekam padi. Sumber : Dokimentasi Pribadi

Setelah proses pembuatan selesai, cetakan yang telah dirakit dilakukan pemeriksaan dan pengujian. Pengujian dilakukan dengan memasukkan bahan sekam padi yang telah disiapkan ke dalam cetakan, kemudian memberikan tekanan secara manual untuk memadatkan bahan hingga membentuk briket.

Luaran utama dari kegiatan ini berupa satu unit cetakan briket manual berbahan besi hollow. Alat tersebut dapat digunakan untuk membantu proses pencetakan sekam padi menjadi briket dengan mekanisme pengoperasian secara manual dan sederhana.

Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam memanfaatkan potensi limbah sekam padi yang tersedia di Desa Celep. Melalui
 
pembuatan alat sederhana tersebut, mahasiswa berupaya memberikan alternatif pemanfaatan limbah pertanian agar dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Pembuatan cetakan briket manual juga menjadi bentuk penerapan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menghasilkan alat yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan di lingkungan masyarakat. Penggunaan besi hollow sebagai material utama memungkinkan alat dibuat dengan konstruksi sederhana dan mekanisme manual.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap cetakan briket manual yang telah dibuat dapat memberikan manfaat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam upaya pemanfaatan limbah sekam padi di Desa Celep.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pengujian alat dan dokumentasi hasil pembuatan cetakan briket manual.



Penulis: 
Rifky Tegar Musyafa

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melaksanakan Pembuatan dan Pemasangan Stiker Identitas Kepala Keluarga sebagai Upaya Mendukung Identifikasi Rumah Warga di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melaksanakan Pembuatan dan Pemasangan Stiker Identitas Kepala Keluarga sebagai Upaya Mendukung Identifikasi Rumah Warga di Desa Celep



Foto dokumentasi penyerahan luaran program kerja kepada bapak barsito selaku kepala RT 14 Dukuh Marditani, Desa Celep. 
Sumber : Dokumentasi Pribadi

wirausahanesia.comSRAGEN, 29 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Reguler Universitas Diponegoroo melaksanakan program kerja Pembuatan dan Pemasangan Stiker Identitas Kepala Keluarga di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada [Rabu, 29 Juli 2026]. Kegiatan ini menghasilkan luaran berupa stiker identitas rumah yang memuat informasi nama kepala keluarga.

Kegiatan ini diinisiasi sebagai respons terhadap kondisi di lingkungan Desa Celep, khususnya masih terdapat rumah warga yang belum memiliki identitas yang jelas. Ketiadaan identitas rumah dapat menyulitkan proses identifikasi rumah, pendataan warga, maupun pencarian alamat. Oleh karena itu, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berinisiatif membuat stiker identitas rumah sebagai penanda sederhana yang mudah dikenali dan dapat digunakan oleh masyarakat.

Program ini menyasar rumah warga di Desa Celep yang membutuhkan identitas rumah. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN bertujuan membantu meningkatkan kemudahan dalam mengenali rumah berdasarkan nama kepala keluarga. Selain itu, keberadaan stiker
 
diharapkan dapat mendukung keteraturan identitas rumah dan mempermudah proses pendataan di lingkungan masyarakat.


Foto Dokumentasi penempelan luaran program kerja pada rumah warga 
untuk memudahkan identifikasi rumah di Dukuh Mardiiani RT 14, Desa Celep. 
Sumber : Dokumentasi Pribadi


Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa program tersebut dirancang berdasarkan hasil pengamatan dan kebutuhan masyarakat di Desa Celep. “Kami melihat masih ada beberapa rumah yang belum memiliki identitas yang jelas. Oleh karena itu, kami membuat stiker identitas kepala keluarga yang dapat digunakan sebagai penanda rumah. Harapannya, stiker ini dapat membantu warga maupun pihak lain dalam mengenali rumah dan mempermudah proses pendataan,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan melakukan pendataan rumah warga yang akan diberikan identitas. Mahasiswa kemudian mengumpulkan informasi berupa nama kepala keluarga yang diperlukan untuk pembuatan stiker. Data tersebut selanjutnya digunakan dalam proses desain dan pencetakan stiker sesuai dengan identitas masing-masing rumah.

Setelah stiker selesai dibuat dan dicetak, mahasiswa KKN melakukan pemasangan secara langsung pada rumah warga. Stiker ditempatkan pada bagian rumah yang mudah terlihat agar dapat berfungsi secara optimal sebagai penanda identitas rumah. Proses pemasangan dilakukan dengan memastikan stiker terpasang dengan baik dan informasi yang tercantum dapat terbaca dengan jelas.

 
Warga Desa Celep menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Pemasangan stiker dinilai dapat memberikan penanda yang lebih jelas pada rumah warga serta membantu memudahkan proses pengenalan dan pencarian alamat. Program ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam memberikan solusi sederhana berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di masyarakat.

Melalui pembuatan dan pemasangan stiker identitas kepala keluarga, mahasiswa KKN berharap luaran program dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat Desa Celep. Stiker yang telah terpasang diharapkan dapat membantu mendukung identifikasi rumah, mempermudah pendataan warga, serta menciptakan lingkungan permukiman yang lebih tertata.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pengecekan hasil pemasangan stiker dan dokumentasi bersama warga. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan mahasiswa KKN dalam membantu memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan solusi sederhana dan tepat guna.



Penulis: 
Rifky Tegar Musyafa

Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Perancangan dan Pembuatan Alat Pembakaran Sekam Padi sebagai Teknologi Tepat Guna untuk Mendukung Produksi Briket Biomassa di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Melakukan Perancangan dan Pembuatan Alat Pembakaran Sekam Padi sebagai Teknologi Tepat Guna untuk Mendukung Produksi Briket Biomassa di Desa Celep

 

Foto dokumentasi Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan proses pembuatan alat pembakaran sekam padi sebagai bagian dari upaya pemanfaatan sekam padi untuk mendukung produksi briket biomassa di Desa Celep. Sumber: 
Dokumentasi Pribadi


wirausahanesia.com - SRAGEN, 6 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja Perancangan dan Pembuatan Alat Pembakaran Sekam Padi sebagai Teknologi Tepat Guna untuk Mendukung Produksi Briket Biomassa di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan ini menghasilkan luaran berupa satu unit alat pembakaran sekam padi yang dirancang untuk mendukung proses pengolahan sekam padi sebagai bahan biomassa dalam produksi briket.

Kegiatan ini diinisiasi berdasarkan adanya potensi sekam padi sebagai limbah hasil aktivitas pertanian di Desa Celep yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sekam padi memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan biomassa yang dapat dimanfaatkan dalam proses produksi briket. Untuk mendukung proses tersebut, diperlukan alat yang dapat membantu proses pembakaran atau karbonisasi sekam padi secara sederhana.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro melakukan perancangan dan pembuatan alat pembakaran sekam padi dengan konstruksi sederhana. Pembuatan alat dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi, kemudahan penggunaan, serta kesesuaian dengan kebutuhan dalam proses pengolahan sekam padi.

 
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa program tersebut dibuat berdasarkan potensi sekam padi yang tersedia di lingkungan Desa Celep. “Kami melihat sekam padi memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan biomassa. Oleh karena itu, kami merancang dan membuat alat pembakaran sekam padi sebagai alat sederhana yang dapat membantu proses pengolahan sekam sebelum digunakan dalam produksi briket biomassa,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan identifikasi potensi sekam padi dan kebutuhan alat untuk proses pengolahannya. Selanjutnya, mahasiswa menentukan rancangan alat, mulai dari bentuk, ukuran, hingga konstruksinya. Proses kemudian dilanjutkan dengan persiapan material, pengukuran, pemotongan, penyusunan, dan perakitan hingga menghasilkan alat pembakaran sekam padi.

Setelah proses pembuatan selesai, alat dilakukan pemeriksaan dan pengujian untuk memastikan alat dapat digunakan sesuai dengan fungsi yang dirancang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan sekam padi sebagai bahan yang akan diproses melalui pembakaran atau karbonisasi.

Sebagai luaran dari program kerja, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menghasilkan satu unit alat pembakaran sekam padi. Alat tersebut kemudian diserahkan agar dapat dimanfaatkan dalam mendukung proses pengolahan sekam padi dan produksi briket biomassa di Desa Celep.


Foto dokumentasi Alat pembakaran sekam padi yang telah selesai dibuat oleh mahasiswa KKN Universitas Diponegoro sebagai luaran program kerja untuk mendukung produksi briket biomassa di Desa Celep. 
Sumber: Dokumentasi Pribadi

 
Setelah proses pembuatan selesai, alat dilakukan pemeriksaan dan pengujian untuk mengetahui fungsi serta kemampuannya dalam proses pembakaran sekam padi. Pengujian dilakukan dengan memasukkan sekam padi ke dalam alat, kemudian melakukan proses pembakaran sesuai dengan mekanisme penggunaan alat.

Hasil dari program kerja ini berupa satu unit alat pembakaran sekam padi sebagai teknologi tepat guna sederhana. Alat tersebut dirancang untuk membantu proses pengolahan sekam padi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan biomassa dalam tahapan produksi briket.

Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam mengoptimalkan potensi limbah pertanian di Desa Celep. Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan biomassa diharapkan dapat mengurangi limbah yang belum termanfaatkan sekaligus memberikan alternatif pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

Pembuatan alat pembakaran sekam padi juga menjadi bentuk penerapan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menghasilkan teknologi yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Dengan konstruksi yang sederhana, alat diharapkan dapat digunakan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan dalam proses produksi briket biomassa.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap alat pembakaran sekam padi yang telah dibuat dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Celep serta mendukung pemanfaatan sekam padi sebagai bahan biomassa secara lebih optimal.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pemeriksaan hasil pengujian alat dan dokumentasi. Perancangan dan pembuatan alat pembakaran sekam padi diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam mendukung pemanfaatan limbah pertanian dan produksi briket biomassa di Desa Celep.


Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Membuat Komposter Sederhana Berbahan Tong Bekas untuk Mengolah Kotoran Hewan Menjadi Pupuk Organik Cair guna Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Membuat Komposter Sederhana Berbahan Tong Bekas untuk Mengolah Kotoran Hewan Menjadi Pupuk Organik Cair guna Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Desa Celep

 

Foto dokumentasi Komposter sederhana berbahan tong bekas yang telah selesai dibuat sebagai luaran program kerja mahasiswa KKN Universitas Diponegoro untuk mendukung pengolahan kotoran hewan menjadi Pupuk Organik Cair (POC) di Desa Celep.
Sumber: Dokumentasi


wirausahanesia.com - SRAGEN, 6 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja Pembuatan Alat Komposter Sederhana Berbahan Tong Bekas (Drum) untuk Mengolah Kotoran Hewan Menjadi Pupuk Organik Cair (POC) di Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Program kerja ini menghasilkan luaran berupa satu unit komposter sederhana berbahan tong bekas yang dirancang sebagai wadah pengolahan limbah peternakan menjadi Pupuk Organik Cair.

Kegiatan ini diinisiasi berdasarkan adanya potensi limbah peternakan berupa kotoran hewan yang tersedia di lingkungan masyarakat Desa Celep. Limbah tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bau dan mengganggu kebersihan lingkungan. Di sisi lain, kotoran hewan memiliki kandungan bahan organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro membuat komposter sederhana dengan memanfaatkan tong bekas (drum) sebagai wadah utama pengolahan. Pemanfaatan tong bekas dilakukan sebagai upaya menggunakan kembali barang yang sudah
 
tidak terpakai sekaligus menghasilkan alat sederhana yang dapat digunakan untuk mendukung pengolahan limbah peternakan.

Komposter tersebut dirancang sebagai wadah pengolahan kotoran hewan menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Hasil pengolahan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian dan pemanfaatan lahan masyarakat.

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa pembuatan komposter dilakukan dengan mempertimbangkan potensi limbah peternakan yang tersedia di lingkungan Desa Celep. “Kami melihat kotoran hewan memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan pupuk. Oleh karena itu, kami membuat komposter sederhana dari tong bekas sebagai wadah pengolahan agar limbah tersebut dapat memiliki nilai guna dan menghasilkan Pupuk Organik Cair,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan identifikasi potensi limbah peternakan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Selanjutnya, mahasiswa menyiapkan tong bekas sebagai bahan utama komposter dan menentukan bagian-bagian yang diperlukan. Proses pembuatan dilakukan melalui pengukuran, pembuatan lubang atau saluran yang diperlukan, serta pemasangan bagian pendukung hingga komposter siap digunakan.

Setelah komposter selesai dibuat, alat diperiksa untuk memastikan setiap bagian dapat digunakan dalam proses pengolahan. Komposter kemudian disiapkan sebagai wadah untuk pengolahan kotoran hewan melalui proses penguraian bahan organik hingga menghasilkan Pupuk Organik Cair.

Luaran utama dari program kerja ini berupa satu unit komposter sederhana berbahan tong bekas (drum). Alat tersebut diharapkan dapat digunakan untuk membantu pengolahan kotoran hewan menjadi Pupuk Organik Cair yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman.

Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam mendukung pemanfaatan limbah peternakan di Desa Celep. Pengolahan kotoran hewan menjadi POC diharapkan dapat mengurangi limbah yang belum termanfaatkan sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai guna bagi kegiatan pertanian.

 
 
Foto dokumentasi Penyerahan komposter sederhana berbahan tong bekas kepada Ketua Gapoktan sebagai luaran program kerja mahasiswa KKN Universitas Diponegoro untuk mendukung pengolahan kotoran hewan menjadi Pupuk Organik Cair (POC) di Desa Celep. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Penyerahan komposter sederhana berbahan tong bekas sebagai luaran program kerja mahasiswa KKN Universitas Diponegoro untuk mendukung pengolahan limbah peternakan menjadi Pupuk Organik Cair di Desa Celep.

Setelah proses pembuatan dan pemeriksaan alat, komposter sederhana tersebut kemudian diserahkan sebagai luaran program kerja kepada pihak yang dituju. Penyerahan ini menjadi bagian dari upaya memastikan alat yang telah dibuat dapat dimanfaatkan setelah kegiatan KKN selesai.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap komposter yang telah dibuat dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Celep. Pengolahan kotoran hewan menjadi Pupuk Organik Cair diharapkan dapat menjadi alternatif dalam mengurangi limbah peternakan sekaligus mendukung kebutuhan pupuk bagi tanaman.

Kegiatan kemudian ditutup dengan dokumentasi setelah proses penyerahan alat. Program pembuatan komposter sederhana ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam mendorong pemanfaatan limbah peternakan secara lebih optimal dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Desa Celep.



Editor:
Achmad Munandar
Kolaborasi KKN-T 106 UNDIP dan Pertamina Patra Niaga Dorong UMKM Pedurungan Tengah Naik Kelas melalui Legalitas dan Digitalisasi

Kolaborasi KKN-T 106 UNDIP dan Pertamina Patra Niaga Dorong UMKM Pedurungan Tengah Naik Kelas melalui Legalitas dan Digitalisasi

 


wirausahanesia.com - Semarang - Penguatan kapasitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Melihat masih adanya tantangan dalam aspek legalitas, branding, penentuan harga, serta pemasaran digital, Tim KKN-T 106 Universitas Diponegoro berkolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga Integrated Semarang menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Penguatan Kapasitas UMKM bagi pelaku usaha di Kelurahan Pedurungan Tengah, Kota Semarang.

Kegiatan dengan tema “Legalitas Usaha hingga Strategi Pemasaran Digital sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing UMKM Berkelanjutan” dilaksanakan pada Sabtu, 8 Agustus 2026, bertempat di Balai RW 8 PKK, Kelurahan Pedurungan Tengah, Kota Semarang. Kegiatan ini melibatkan pelaku UMKM Pedurungan Tengah, mahasiswa KKN-T 106 Universitas Diponegoro, Pertamina Patra Niaga Integrated Semarang, serta dosen pendamping Annisa Firdauzi, S.P., M.P., Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan UMKM yang lebih berkelanjutan. Kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan pendampingan agar pelaku UMKM memperoleh pengetahuan dan hasil nyata yang dapat diterapkan dalam pengelolaan serta pengembangan usaha.

Legalitas usaha menjadi materi pertama yang diberikan kepada peserta. Mahasiswa KKN-T 106 bersama mitra memperkenalkan pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai identitas resmi usaha serta memberikan pemahaman mengenai proses pengurusannya melalui sistem Online Single Submission (OSS). Peserta juga diperkenalkan pada aspek legalitas pangan, termasuk Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bagi produk yang memenuhi ketentuan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan kepatuhan terhadap legalitas sekaligus membangun kepercayaan konsumen.

Penguatan kapasitas kemudian dilanjutkan melalui materi branding dan pengembangan identitas produk. Peserta diberikan pemahaman bahwa branding tidak hanya berkaitan dengan logo, tetapi mencakup nama merek, desain kemasan, warna, informasi produk, serta karakter yang ingin ditampilkan kepada konsumen. Sebagai bentuk pendampingan nyata, peserta juga memperoleh desain kemasan yang disesuaikan dengan karakter dan identitas produk masing-masing. Desain tersebut diharapkan dapat langsung dimanfaatkan untuk meningkatkan tampilan produk, memperkuat identitas merek, dan memberikan nilai tambah di mata konsumen.

Peserta juga memperoleh materi mengenai penentuan harga jual berdasarkan biaya produksi dan margin keuntungan. Mahasiswa KKN-T 106 mengajak pelaku usaha mengidentifikasi berbagai komponen biaya, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, kemasan, hingga biaya operasional. Dengan memahami struktur biaya, pelaku UMKM dapat menentukan harga jual secara lebih terukur tanpa mengabaikan keuntungan maupun daya beli konsumen.

Digitalisasi pemasaran menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan pemberdayaan ini. Pelaku UMKM diperkenalkan dengan pemanfaatan Instagram, Facebook, TikTok, dan WhatsApp Business sebagai sarana memperluas jangkauan pasar. Peserta diberikan pengetahuan mengenai teknik foto produk, penyusunan deskripsi produk, pembuatan konten promosi, interaksi dengan konsumen, serta pentingnya konsistensi dalam melakukan pemasaran digital.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara interaktif melalui pemaparan materi, pendampingan, praktik, dan sesi diskusi. Peserta dapat menyampaikan permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha, mulai dari kendala pengurusan legalitas hingga kesulitan menentukan harga dan memasarkan produk secara digital. Mahasiswa KKN-T 106 bersama dosen pendamping dan pihak Pertamina Patra Niaga Integrated Semarang kemudian memberikan arahan berdasarkan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.

Kolaborasi tersebut memberikan nilai tambah karena pemberdayaan UMKM dilakukan melalui sinergi antara pengetahuan akademik mahasiswa, pendampingan dosen, dukungan mitra industri, dan pengalaman langsung pelaku usaha. Pendekatan ini membuat kegiatan tidak berhenti pada sosialisasi satu arah, tetapi menghasilkan pendampingan yang lebih aplikatif sesuai dengan kebutuhan UMKM.

Impact kegiatan terlihat melalui bertambahnya kapasitas dan kesiapan pelaku UMKM dalam mengelola usaha secara lebih profesional dan adaptif terhadap perkembangan pasar. Peserta memperoleh pemahaman mengenai legalitas usaha, pengetahuan branding, kemampuan menentukan harga jual, wawasan pemasaran digital, serta desain kemasan yang dapat digunakan sebagai bagian dari penguatan identitas produk. Luaran tersebut menjadi bekal konkret bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kredibilitas, memperbaiki tampilan produk, memperluas jangkauan konsumen, dan membangun fondasi usaha yang lebih kuat.

Sebagai bagian dari hasil kegiatan, peserta memperoleh desain kemasan yang dapat langsung diterapkan pada produk UMKM, selain pendampingan dan materi mengenai legalitas, branding, penentuan harga, serta pemasaran digital. Hasil tersebut menjadi bukti bahwa kegiatan pemberdayaan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga menghasilkan output nyata yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mendukung pengembangan usahanya.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kapasitas ekonomi masyarakat, SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui transfer pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan usaha produktif, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan digitalisasi dan penguatan usaha, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Universitas Diponegoro, Pertamina Patra Niaga Integrated Semarang, pemerintah kelurahan, dan masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, KKN-T 106 Universitas Diponegoro bersama Pertamina Patra Niaga Integrated Semarang berupaya menghadirkan pemberdayaan UMKM yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan, tetapi juga pada penguatan fondasi usaha. Legalitas, branding, desain kemasan, pengelolaan harga, dan pemasaran digital menjadi bekal bagi pelaku UMKM Pedurungan Tengah untuk meningkatkan daya saing, memperluas pasar, serta membangun usaha yang inklusif dan berkelanjutan.


Editor:
Achmad Munandar
Upaya KKN UMAHA Perkuat Legalitas Usaha di Desa Karangtanjung, Sidoarjo

Upaya KKN UMAHA Perkuat Legalitas Usaha di Desa Karangtanjung, Sidoarjo




wirausahanesia.com - Legalitas usaha menjadi salah satu syarat mendasar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan bisnis secara resmi. Di Desa Karangtanjung, Kabupaten Sidoarjo, persoalan ini mendapat perhatian melalui program pendampingan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA).

Program tersebut berlangsung pada Minggu, 16 Agustus 2026, dengan sasaran pelaku usaha rumahan yang selama ini belum mengurus NIB secara mandiri. Pendampingan difokuskan pada proses pendaftaran di sistem Online Single Submission (OSS) agar pelaku usaha memiliki identitas legal yang jelas.

Mahasiswa KKN UMAHA memilih penerbitan NIB sebagai program prioritas karena sebagian besar pelaku UMKM di desa tersebut belum mengantongi legalitas usaha resmi. Kondisi ini dinilai menghambat akses terhadap pembiayaan maupun kemitraan usaha yang mensyaratkan bukti legalitas.

Pendampingan dilakukan secara tatap muka, mulai dari pengisian data usaha, klasifikasi bidang usaha, hingga pencetakan dokumen NIB. Setiap tahapan dijelaskan secara bertahap agar pelaku usaha mengetahui alur pendaftaran secara utuh dan tidak kesulitan mengoperasikan sistem OSS.

Salah satu pelaku usaha yang mengikuti program ini adalah Siti Fatimah, warga Desa KarangTanjung yang menjalankan usaha rumahan. Ia mengaku terbantu karena proses pendaftaran NIB sebelumnya terasa rumit jika dilakukan seorang diri.

Siti menyampaikan rasa terima kasih atas pendampingan yang diterimanya, karena kini ia mengetahui tahapan pengurusan NIB secara lebih runtut. Ia berharap kepemilikan NIB dapat mendorong usahanya berkembang lebih tertata ke depan.

Kepemilikan NIB memberi sejumlah keuntungan bagi pelaku usaha, terutama dalam hal kepastian identitas hukum dan akses terhadap dukungan pemerintah. Status legal ini juga membuka peluang kerja sama dengan mitra usaha maupun lembaga keuangan, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap usaha yang dijalankan.

Selain proses pendaftaran NIB, aspek perpajakan turut menjadi perhatian bagi pelaku usaha yang baru memulai legalitas usaha secara resmi. Bagi pelaku UMKM, disarankan berkonsultasi dengan konsultan pajak Sidoarjo sebagai rujukan pelaku usaha kecil di wilayah tersebut dalam memastikan legalitas usaha di sistem OSS, agar bisa sinkron dengan data administrasi perpajakan..

Sinkronisasi data antara NIB dan kewajiban pajak dinilai bernilai strategis untuk mencegah risiko sanksi di kemudian hari akibat ketidaksesuaian data usaha. Pelaku UMKM yang tertib administrasi juga berpeluang lebih besar mendapat kepercayaan dari mitra bisnis maupun lembaga pembiayaan.

Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat desa memberi ruang bagi pelaku usaha untuk bertanya secara langsung tanpa merasa canggung. Bahasa yang digunakan disesuaikan dengan kebiasaan sehari-hari warga desa, sehingga proses pendaftaran NIB terasa lebih akrab dan tidak membingungkan.

Program pendampingan NIB merupakan bagian dari agenda Inovasi UMKM yang dijalankan mahasiswa KKN UMAHA selama masa pengabdian di Desa Karangtanjung. Program ini disusun agar pelaku usaha desa mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Mahasiswa berharap sejumlah pelaku usaha lain di Desa KarangTanjung turut terdorong mengurus legalitas secara resmi setelah mengikuti pendampingan ini. Respons positif dari warga menjadi modal bagi mahasiswa untuk merancang program lanjutan yang sesuai kebutuhan lapangan, sekaligus menjadi wujud nyata implementasi ilmu yang diperoleh mahasiswa di bangku perkuliahan.
Hebat! Tim KKN-T 106 UNDIP Berhasil Membuat Tali dari Serat Pelepah Pisang

Hebat! Tim KKN-T 106 UNDIP Berhasil Membuat Tali dari Serat Pelepah Pisang


Sesi foto bersama mahasiswa KKN, kelompok PKK, kelompok tani mulyo, karang taruna,
dan warga sebagai penutup rangkaian kegiatan Sosialisasi Pengolahan Produk Hasil Samping
Pohon Pisang di Kelurahan Pedurungan Tengah yang didukung oleh Pertamina Patra Niaga.


wirausahanesia.com - Semarang – Toko PKK RW 08, Jalan Depok Dalam 3, Kelurahan Pedurungan Tengah, dipenuhi warga pada Sabtu, 1 Agustus 2026, dalam kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 106 Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan dukungan Pertamina Patra Niaga. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga 12.30 WIB tersebut memperkenalkan pemanfaatan limbah bonggol pisang menjadi abon dan tali dari pelepah pisang.

Tim KKN-T 106 Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kegiatan pemanfaatan limbah pelepah pisang menjadi tali berbahan serat alami di Kelurahan Pedurungan Tengah, Kota Semarang. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk inovasi dalam memanfaatkan potensi sumber daya lokal sekaligus menghasilkan produk kerajinan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Pemanfaatan limbah dari tanaman pisang di lingkungan masyarakat hingga saat ini masih belum dilakukan secara optimal. Setelah buah pisang dipanen, bagian tanaman seperti pelepah pisang umumnya hanya dibiarkan menumpuk atau dibuang begitu saja. Padahal, pelepah pisang memiliki serat alami yang panjang, cukup kuat, dan berpotensi untuk diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Melihat potensi tersebut, Tim KKN-T 106 UNDIP berinisiatif mengembangkan pelepah pisang menjadi benang serat alami yang kemudian dapat dipilin dan dipintal menjadi tali. Inovasi ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi limbah tanaman pisang, tetapi juga menjadi upaya untuk menciptakan alternatif bahan baku kerajinan yang berasal dari sumber daya lokal.


Proses pengolahan diawali dengan menjemur pelepah pisang hingga kadar airnya berkurang dan serat lebih mudah untuk dipisahkan. Setelah melalui proses pengeringan, pelepah kemudian diproses menggunakan alat serok serat untuk memisahkan dan menghasilkan serat-serat yang lebih terurai. Tahap ini menjadi salah satu proses penting karena kualitas dan keterpisahan serat akan memengaruhi hasil akhir tali yang dibuat.

Serat yang telah diperoleh selanjutnya masuk ke tahap pemilinan. Pada tahap ini, serat dipilin menggunakan alat pemilin yang dirancang dan dibuat oleh Tim KKN-T 106. Pemilinan dilakukan untuk menggabungkan serat-serat yang masih terpisah sehingga membentuk untaian yang lebih panjang dan kuat. Penggunaan alat yang dikembangkan oleh tim diharapkan dapat membantu membuat proses pengolahan serat menjadi lebih terarah dan mudah dilakukan oleh masyarakat.

Setelah melalui proses pemilinan, untaian serat kemudian dilanjutkan ke tahap pemintalan menggunakan mesin pemintal yang juga dirancang dan dibuat oleh Tim KKN-T 106 UNDIP. Proses ini bertujuan untuk menggabungkan dan menguatkan serat hingga terbentuk tali dengan ukuran dan bentuk yang lebih seragam. Proses pembuatan tali dapat dilakukan dengan lebih efektif dibandingkan jika seluruh proses dilakukan secara manual.


Dokumentasi Alat Serok Pelepah Pisang, Alat Pemilin Tali Pelepah Pisang,
Alat Pemintal Tali Pelepah Pisang
dan Kegiatan Sosialisasi Pengolahan Pelepah Pisang Menjadi Tali 

Pada kegiatan sosialisasi, coaster berbahan serat pelepah pisang dibagikan kepada para peserta sebagai contoh hasil pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna. Selain dapat digunakan sebagai coaster atau tatakan gelas, tali dari serat pelepah pisang juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai kerajinan lain, seperti aseupan, keranjang, tempat penyimpanan, dan produk dekoratif lainnya. Melalui kegiatan ini, Tim KKN-T 106 UNDIP memperkenalkan bahwa pelepah pisang dapat diolah menjadi bahan kerajinan yang kreatif, fungsional, dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Salah satu peserta kegiatan, Ibu Ika, mengapresiasi inovasi pengolahan pelepah pisang menjadi tali karena dinilai sebagai pemanfaatan bahan yang sebelumnya belum banyak digunakan. Menurutnya, inovasi tersebut juga masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk dan variasi yang lebih menarik bagi masyarakat.

“Menurut saya, ini merupakan inovasi yang baru dan menarik karena pelepah pisang yang biasanya hanya dibuang ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Ke depannya akan lebih menarik kalau bisa dikembangkan lagi dengan berbagai bentuk atau variasi produk, sehingga pemanfaatannya tidak hanya berhenti pada satu jenis produk saja” ujar Ibu Ika.

Program ini dilaksanakan dengan pendampingan Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc. Pendampingan ini dilakukan untuk memastikan inovasi yang dikembangkan mahasiswa tidak hanya menjadi luaran KKN, tetapi juga dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN-T 106 Universitas Diponegoro, PT Pertamina Patra Niaga, Pemerintah Kelurahan Pedurungan Tengah, dan masyarakat, abon bonggol pisang menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah. Inovasi ini juga menunjukkan bahwa proses Research and Development (R&D) membutuhkan tahapan pengembangan, evaluasi, dan penyempurnaan agar inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara nyata dan berkelanjutan.


Penulis:
Betari Nariswari Tsuraya
Teknologi Pangan Angkatan 2023, Universitas Diponegoro.

Editor:
Achmad Munandar
Perkuat Kerja Sama dengan Pelaku Usaha, Mahasiswa KKN Undip Fasilitasi Penandatanganan Nota Kesepahaman Bazar UMKM Desa Toyogo

Perkuat Kerja Sama dengan Pelaku Usaha, Mahasiswa KKN Undip Fasilitasi Penandatanganan Nota Kesepahaman Bazar UMKM Desa Toyogo




wirausahanesia.comSragen, 9 Agustus 2026 - Sebagai upaya mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat, mahasiswa KKN Undip memfasilitasi kegiatan Bazar UMKM di Desa Toyogo, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Rangkaian kegiatan diawali dengan proses pendaftaran dan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang berlangsung pada 1-7 Agustus 2026, sebelum puncak acara bazar yang digelar pada 9 Agustus 2026.

Penandatanganan MoU dilakukan antara Ketua Pelaksana kegiatan bazar dan masing-masing pelaku UMKM yang berpartisipasi. Proses ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan, mengingat MoU berfungsi sebagai dasar hukum sekaligus pedoman kerja sama antara panitia penyelenggara dan pelaku usaha selama kegiatan bazar berlangsung.

Di dalam MoU tersebut, dimuat sejumlah poin utama yang mengatur bentuk kerja sama antara kedua belah pihak, diantaranya penyediaan lapak dan fasilitas bagi pelaku UMKM, ketentuan waktu dan lokasi kegiatan, hak dan kewajiban Ketua Pelaksana selaku penyelenggara, serta hak dan kewajiban pelaku UMKM sebagai peserta bazar. Selain itu, MoU juga memuat ketentuan mengenai tanggung jawab masing-masing pihak selama pelaksanaan kegiatan, guna memastikan bazar dapat berjalan dengan tertib, aman, dan saling menguntungkan.

Proses pendaftaran dan penandatanganan yang berlangsung selama satu pekan tersebut turut menjaring partisipasi aktif dari masyarakat. Tercatat sebanyak 32 pelaku UMKM Desa Toyogo menyatakan kesediaannya untuk bergabung dan menandatangani MoU sebagai peserta resmi bazar, dengan beragam jenis produk yang akan ditampilkan, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Tidak Sekadar Formalitas Dokumen
Keberadaan MoU dalam kegiatan bazar ini tidak dimaksudkan semata sebagai kelengkapan administratif, melainkan sebagai landasan agar kerja sama antara panitia dan pelaku UMKM berjalan dengan jelas dan terarah. Melalui dokumen ini, setiap pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai peran, hak, dan kewajiban masing-masing, sehingga potensi kesalahpahaman selama pelaksanaan kegiatan dapat diminimalkan.

Pendekatan ini juga sejalan dengan semangat pemberdayaan UMKM yang menjadi tujuan utama kegiatan, yakni memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan produknya sekaligus membangun kepercayaan antara masyarakat dan penyelenggara kegiatan.


Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa
Hasil dari proses pendaftaran dan penandatanganan MoU menunjukkan antusiasme yang tinggi dari pelaku UMKM Desa Toyogo untuk berpartisipasi dalam kegiatan bazar. Partisipasi 32 UMKM ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan produk-produk unggulan desa kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus mendorong peningkatan pendapatan pelaku usaha.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Undip berharap Bazar UMKM Desa Toyogo dapat menjadi wadah yang berkelanjutan bagi pelaku usaha lokal untuk terus berkembang, sekaligus mempererat kerja sama antara masyarakat dan pemerintah desa dalam mendukung perekonomian setempat.

"Penandatanganan MoU ini menjadi bentuk komitmen bersama antara panitia dan pelaku UMKM, agar kerja sama yang terjalin selama bazar berlangsung dengan jelas, adil, dan saling menguntungkan bagi semua pihak," ujar Chayla.

Kegiatan Bazar UMKM Desa Toyogo ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Undip dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendampingan administratif dan penguatan kerja sama antarpihak. 


Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN Tematik 101 UNDIP Latih Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Nasi Basi dan Air Cucian Beras sebagai Solusi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga

Mahasiswa KKN Tematik 101 UNDIP Latih Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Nasi Basi dan Air Cucian Beras sebagai Solusi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga



wirausahanesia.comMinggu, 19 Juli 2026, bertempat di RT 04 RW 09 Kampung Nglarang, Kecamatan Gunungpati, Kabupaten Semarang, telah dilaksanakan kegiatan edukasi dan pendampingan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari nasi basi dan air cucian beras (leri) sebagai salah satu program kerja individu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026. Kegiatan ini disampaikan oleh Fawaz Dzaky Parama Wijaya, mahasiswa KKN Tematik 101 UNDIP, kepada masyarakat sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair yang bernilai guna. Program ini bertujuan memberikan edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga yang sederhana, ekonomis, dan ramah lingkungan sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah organik.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah organik rumah tangga, khususnya nasi basi dan air cucian beras, yang selama ini masih sering dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki nilai ekonomi. Melalui proses fermentasi yang tepat, kedua bahan tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang kaya akan mikroorganisme bermanfaat dan unsur hara bagi tanaman. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan pengelolaan limbah berbasis rumah tangga, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pupuk hasil fermentasi bahan organik yang mengandung unsur hara dan mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Dalam kegiatan ini dijelaskan bahwa POC dibuat menggunakan bahan sederhana berupa 1 kg nasi basi, 1 liter air cucian beras (leri), 10 ml molase, dan 10 ml EM4. Selanjutnya peserta diberikan penjelasan mengenai manfaat POC, antara lain meningkatkan kesuburan tanah, membantu pertumbuhan tanaman, memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna, mengurangi pencemaran lingkungan, serta menjadi alternatif pupuk organik yang mudah dibuat dengan biaya yang relatif murah. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai alat dan bahan yang diperlukan, tahapan pembuatan, proses fermentasi, ciri-ciri POC yang berhasil, cara penggunaan, hingga hal-hal yang harus dihindari selama proses pembuatannya.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan POC secara langsung. Pada praktik ini digunakan 1 kg nasi basi, 1 liter air cucian beras, 10 ml molase, dan 10 ml EM4 sebagai bahan utama fermentasi. Seluruh peserta diajak mengikuti setiap tahapan pembuatan, mulai dari menghancurkan nasi basi agar proses fermentasi berlangsung lebih cepat, mencampurkan air cucian beras dengan molase dan EM4 hingga homogen, kemudian memasukkan seluruh bahan ke dalam wadah fermentasi dan mengaduknya hingga merata. Wadah kemudian ditutup rapat dan difermentasikan selama 14–30 hari di tempat yang teduh. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai pentingnya membuka tutup wadah setiap satu hingga dua hari sekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi sehingga proses berlangsung secara optimal.


Dalam penyampaian materi, Fawaz Dzaky Parama Wijaya menjelaskan bahwa POC yang berhasil memiliki ciri-ciri berwarna cokelat hingga cokelat tua, memiliki aroma fermentasi yang khas seperti tape, tidak mengeluarkan bau busuk, tidak tercampur benda asing, serta memiliki tingkat keasaman yang sesuai. Selain itu, peserta juga diberikan edukasi mengenai kesalahan yang harus dihindari selama proses pembuatan, seperti menggunakan bahan yang tercampur minyak, sabun, atau bahan kimia lainnya, mengisi wadah fermentasi terlalu penuh, meletakkan wadah di bawah sinar matahari langsung, serta menggunakan POC tanpa proses pengenceran terlebih dahulu.

Selain proses pembuatannya, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai cara penggunaan POC yang benar agar memberikan hasil yang optimal bagi tanaman. Sebelum diaplikasikan, POC harus diencerkan dengan dosis 10–20 ml POC ke dalam 1 liter air, kemudian digunakan dengan cara disemprotkan pada daun atau disiramkan ke media tanam sebanyak 1–2 kali setiap minggu. Dengan penggunaan yang tepat, POC diharapkan mampu membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman, memperbaiki kondisi tanah, serta menjaga kesehatan tanaman secara alami.

Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam mengikuti penyampaian materi, mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses fermentasi, serta mengikuti demonstrasi pembuatan POC hingga selesai. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat mampu mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan limbah organik yang dihasilkan setiap hari sehingga dapat mengurangi jumlah sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan pupuk yang bermanfaat bagi tanaman.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Fawaz Dzaky Parama Wijaya sebagai bagian dari KKN Tematik 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026 ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, mudah diterapkan, ekonomis, dan ramah lingkungan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna serta mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12), serta mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui pengurangan limbah organik rumah tangga.


Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN-T IDBU-42 UNDIP Tingkatkan Kapasitas Pengelolaan Keuangan BUMDes Sukorejo melalui Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Berbasis Excel

Mahasiswa KKN-T IDBU-42 UNDIP Tingkatkan Kapasitas Pengelolaan Keuangan BUMDes Sukorejo melalui Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Berbasis Excel

Mahasiswa KKN-T IDBU-42 UNDIP


wirausahanesia.com - Sragen - Mahasiswa KKN-T IDBU-42 Universitas Diponegoro, Eva Julian Nur Safitri, mahasiswa Program Studi D-IV Akuntansi Perpajakan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, melaksanakan program kerja monodisiplin berupa Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan BUMDes Desa Sukorejo, Kabupaten Sragen pada Selasa (21/7/2026), pukul 10.00 WIB, bertempat di Kantor BUMDes Sukorejo. Program kerja ini dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ir. Cahya Setya Utama, S.Pt., M.Si., IPM.

Program ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pendampingan dilakukan secara langsung bersama Bendahara BUMDes, Ibu Harsini, dengan fokus pada penyusunasssn laporan keuangan yang lebih sistematis, akurat, dan sesuai dengan kaidah akuntansi menggunakan Microsoft Excel.

Dalam kegiatan tersebut, Eva tidak hanya membantu menyelesaikan penyusunan laporan keuangan, tetapi juga memberikan pendampingan teknis mengenai penggunaan fitur-fitur Microsoft Excel yang lebih optimal untuk mendukung proses pencatatan dan pelaporan keuangan. Pendampingan meliputi penyusunan laporan keuangan berbasis Excel, standarisasi penggunaan nomor akun (chart of accounts), penamaan akun yang konsisten, klasifikasi transaksi, hingga penentuan dan pencatatan akumulasi penyusutan aset tetap agar laporan keuangan yang dihasilkan lebih informatif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selama proses pendampingan, berbagai data transaksi yang sebelumnya belum tercatat maupun belum terklasifikasi dengan tepat berhasil diidentifikasi dan disusun kembali. Melalui proses tersebut, laporan keuangan BUMDes yang sebelumnya mengalami ketidakseimbangan (unbalanced) berhasil disesuaikan hingga kembali menunjukkan posisi yang seimbang (balance). Selain memperbaiki laporan yang telah ada, kegiatan ini juga memberikan pemahaman mengenai alur penyusunan laporan keuangan sehingga pengelolaan administrasi keuangan dapat dilakukan secara lebih efektif pada periode berikutnya.

Mahasiswa KKN-T IDBU-42 UNDIP

Sebagai luaran program, Eva menyusun Poster Panduan Teknis, Standarisasi, dan Tata Cara Penyusunan Laporan Keuangan BUMDes yang dirancang sebagai media pembelajaran praktis bagi pengurus BUMDes. Panduan tersebut memuat tahapan penyusunan laporan keuangan berbasis Excel, standar penggunaan nomor akun, tata cara pencatatan transaksi, serta penyusunan laporan yang sistematis sehingga dapat menjadi acuan dalam pengelolaan keuangan secara berkelanjutan.

Ibu Harsini selaku Bendahara BUMDes Sukorejo menyampaikan bahwa pendampingan yang diberikan sangat membantu proses penyusunan laporan keuangan. Menurut beliau, pemanfaatan Microsoft Excel secara lebih mendalam membuat proses pencatatan menjadi lebih mudah, cepat, dan rapi. Selain itu, penjelasan mengenai penggunaan nomor akun, penamaan akun, serta perhitungan akumulasi penyusutan aset tetap memberikan pemahaman baru yang sebelumnya belum diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan BUMDes.

Melalui program ini, diharapkan BUMDes Sukorejo mampu menerapkan sistem pelaporan keuangan yang lebih akuntabel, transparan, dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kualitas tata kelola kelembagaan desa. Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, khususnya SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan tata kelola dan akuntabilitas kelembagaan desa, serta berkontribusi terhadap SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kapasitas pengelolaan BUMDes sebagai penggerak ekonomi masyarakat.



Editor:
Achmad Munandar
Mahasiswa KKN-T 101 Universitas Diponegoro Edukasi Ibu PKK RT 03 RW 08 Perbalan Gunungpati tentang Pemanfaatan Daun Kelor menjadi Pudding Bergizi serta Pendampingan Anak di Era Digital

Mahasiswa KKN-T 101 Universitas Diponegoro Edukasi Ibu PKK RT 03 RW 08 Perbalan Gunungpati tentang Pemanfaatan Daun Kelor menjadi Pudding Bergizi serta Pendampingan Anak di Era Digital




wirausahanesia.comSemarang – Tim KKN-T 101 Gunungpati Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada 30 ibu PKK RT 03 RW 08 Perbalan, Kelurahan Gunungpati, Kota Semarang, pada 19 Juli 2026. Kegiatan tersebut mengangkat dua program kerja utama, yaitu pemanfaatan daun kelor sebagai olahan pangan bergizi melalui pembuatan puding daun kelor serta edukasi bertema "Bijak Mendampingi Anak di Era Digital".

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program kerja Tim KKN-T 101 Gunungpati Universitas Diponegoro Tahun 2026 dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kedua program tersebut, mahasiswa berupaya memberikan edukasi yang aplikatif mengenai pemenuhan gizi keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendampingan anak dalam penggunaan gadget.

Daun kelor dipilih sebagai materi sosialisasi karena merupakan tanaman yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat, memiliki kandungan gizi yang tinggi, namun pemanfaatannya sebagai olahan pangan sehari-hari masih relatif terbatas. Melalui inovasi puding daun kelor, masyarakat diperkenalkan pada alternatif makanan bergizi yang memiliki cita rasa lebih disukai anak-anak sehingga diharapkan mampu mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.

Materi pembuatan puding daun kelor disampaikan oleh Vifien Wina Agustia bahwa daun kelor mengandung berbagai zat gizi penting, seperti vitamin A, vitamin C, zat besi, kalsium, protein nabati, serta antioksidan yang bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, dan membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Selain memaparkan manfaat daun kelor, Vifien juga mendemonstrasikan proses pembuatan puding daun kelor menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh masyarakat. Puding dibuat dari daun kelor, air, daun pandan, agar-agar, santan, dan gula sehingga menghasilkan olahan yang praktis, bernilai gizi, serta dapat menjadi pilihan camilan sehat bagi anak-anak maupun keluarga.



Pada sesi berikutnya, Adam Maulana Malik menyampaikan materi bertajuk "Bijak Mendampingi Anak di Era Digital". Materi tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan gadget pada anak yang berpotensi menimbulkan berbagai dampak apabila tidak disertai pendampingan yang tepat dari orang tua.

Adam menjelaskan bahwa gadget bukanlah sesuatu yang harus dijauhkan dari anak, melainkan perlu digunakan secara bijaksana. Apabila dimanfaatkan secara tepat, gadget dapat menjadi sarana belajar, meningkatkan kreativitas, serta memperluas akses informasi. Namun, penggunaan yang berlebihan tanpa pengawasan dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti kecanduan, gangguan pola tidur, mata cepat lelah, menurunnya konsentrasi belajar, berkurangnya interaksi sosial, hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak.

"Tolong dampingi anak dalam penggunaan gadget agar terhindar dari sisi negatif gadget seperti kecanduan, gangguan tidur, mata cepat lelah, sulit fokus belajar, kurang bersosialisasi, dan terpapar konten negatif," ujar Adam Maulana Malik.

Dalam sosialisasi tersebut, peserta juga diajak berdiskusi mengenai cara menerapkan aturan penggunaan gadget di rumah, memilih konten yang sesuai dengan usia anak, serta membangun komunikasi yang baik agar teknologi dapat dimanfaatkan secara positif dalam proses tumbuh kembang anak.

Salah seorang peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan tidak hanya memberikan wawasan mengenai cara mengolah daun kelor menjadi makanan yang menarik bagi anak, tetapi juga meningkatkan pemahaman tentang pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget di lingkungan keluarga.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai manfaat daun kelor, teknik pengolahan yang tepat agar kandungan gizinya tetap terjaga, hingga strategi membatasi penggunaan gadget tanpa menghambat proses belajar anak. Diskusi yang berlangsung menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap isu kesehatan keluarga dan pola pengasuhan di era digital.

 
Melalui kegiatan ini, Tim KKN-T 101 Gunungpati berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemanfaatan sumber pangan lokal yang bergizi sebagai upaya memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga. Di sisi lain, edukasi mengenai pendampingan anak di era digital diharapkan mampu meningkatkan kesadaran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget sehingga anak dapat memperoleh manfaat teknologi secara optimal dengan risiko dampak negatif yang lebih kecil.

Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Tim KKN-T 101 Gunungpati Universitas Diponegoro dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi bersama ibu-ibu PKK, mahasiswa berharap ilmu yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mendukung terwujudnya keluarga yang lebih sehat, cerdas, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.


Editor:
Achmad Munandar
Kisah Sukses Super Koi Nusantara, Toko Ikan Hias di Serpong yang Raih Rating 5 Bintang dengan 200+ Ulasan Google

Kisah Sukses Super Koi Nusantara, Toko Ikan Hias di Serpong yang Raih Rating 5 Bintang dengan 200+ Ulasan Google

 


wirausahanesia.comDunia hobi ikan hias di Indonesia terus berkembang pesat. Semakin banyak masyarakat yang tertarik memelihara ikan hias, baik untuk koleksi pribadi, penghias rumah, maupun sebagai ladang bisnis. 

Di tengah tren yang terus tumbuh ini, Super Koi Nusantara hadir sebagai salah satu toko ikan hias terpercaya yang berhasil membangun reputasi solid di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya.

Lewat postingan kali ini, yuk kita kenalan dengan Toko Super Koi Nusantara dengan kisah suksesnya yang sangat inspiratif. 


Mengenal Super Koi Nusantara
Super Koi Nusantara adalah toko ikan hias yang berlokasi di Ciater, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Toko ini menyediakan berbagai jenis ikan hias air tawar berkualitas dengan komitmen utama yang sederhana namun kuat: harga murah, kualitas terjamin.

Berkat konsistensi dalam menjaga kualitas produk dan pelayanan, Super Koi Nusantara berhasil meraih rating 5 bintang dari lebih 200 ulasan Google - sebuah pencapaian yang mencerminkan kepercayaan nyata dari para pelanggan yang telah merasakan sendiri kualitas toko ini.

Koleksi Ikan Hias yang Lengkap
Salah satu keunggulan Super Koi Nusantara adalah koleksinya yang sangat beragam. Tidak hanya ikan koi, berbagai jenis ikan hias populer tersedia lengkap dalam satu tempat:

1. Ikan Koi
Kohaku, Sanke, Showa, Doitsu, dan Ogon. Setiap koi dipilih dari indukan berkualitas dengan warna cerah dan pola yang indah - cocok untuk kolam taman maupun kolam minimalis.



2. Ikan Koki (Goldfish)
Ranchu, Oranda, Mutiara, dan berbagai varian lainnya. Semua dalam kondisi sehat dan aktif, siap menghiasi akuarium rumah Anda.





3. Axolotl
Tersedia berbagai varian: Albino, Golden, Melanoid, Marble, dan Leucistic. Semua dipelihara dengan standar perawatan yang baik agar tiba dalam kondisi sehat di tangan pelanggan.




4. Channa (Snakehead)
Berbagai varian Channa termasuk Channa Auranti yang langka dan cantik - favorit para kolektor serius di seluruh Indonesia.


5. Ikan Hias Lainnya
Cupang (Betta), Oscar, Manfish (Angelfish), Kaviat, Parrot Fish, Palmas Albino, Patin Hias, Sapu-sapu Albino, dan Belida.




Melayani Seluruh Indonesia
Keunggulan lain yang membuat Super Koi Nusantara semakin dikenal adalah layanan pengiriman ke seluruh Indonesia. Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam pengiriman ikan hias hidup, tim Super Koi Nusantara menggunakan teknik pengemasan khusus yang memastikan ikan tiba dalam kondisi sehat danselamat - baik ke Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, maupun kota-kota di luar Jawa.


Membuka Peluang Reseller dan Distributor
Kabar baik buat pembaca wirsausahanesia yang lagi nyari peluang usaha, Super Koi Nusantara juga membuka peluang kerja sama bagi yang ingin membangun bisnis ikan hias sebagai reseller maupun distributor. Dengan skema harga grosir yang kompetitif dan stok yang konsisten, Super Koi Nusantara menjadi mitra bisnis yang ideal bagi para pengusaha ikan hias di seluruh Indonesia.


Cara Berbelanja di Super Koi Nusantara
Sobat pembaca yang sudah tidak sabar ingin membeli ikan hias impainnya, bisa langsung belanja di Super Koi Nusantara, berikut 3 pilihan caranya:

1. Kunjungi Toko Langsung
Datang langsung ke toko di Ciater, Serpong, Tangerang Selatan. Tim kami siap membantu memilihkan ikan yang sesuai kebutuhan dan budget Anda.

2. Hubungi via WhatsApp
Untuk konsultasi, cek stok, dan pemesanan pengiriman ke seluruh Indonesia: 0812-8091-2708

3. Belanja via Marketplace
Produk tersedia di Shopee (id.shp.ee/N9hKBKE5) dan Tokopedia (tk.tokopedia.com/ZSCUY23VR)


In this economy era dengan aneka berita yang membuat pusing kepala, rehat sejenak dari hiruk pikuk dunia nampaknya bukan lagi opsi tapi keharusan. Banyak pilihan hal positif untuk melepaskan penat salah satunya melamun di depan aquarium menikmati ikan yang berenang kesana-kemari seolah hidup meraka tanpa beban hanya berenang dan makan, wajar orang iri pada mereka dengan celetukan "enak ya jadi ikan". Semoga postingan kita kali ini bermanfaat. 


Informasi Lengkap Super Koi Nusantara
Sebagai penutup buat sobat tidak kebingungan saat mau belanja, kami rangkum informasi lengkap tentang Super Koi Nusantara:

Nama Toko: Super Koi Nusantara

Alamat: Ciater, Serpong, Tangerang Selatan, Banten

WhatsApp: 0812-8091-2708


Rating: 5 Bintang (200+ Ulasan Google)



Pengiriman: Ke seluruh Indonesia