Seller Shopee Menjerit Kerena Kenaikan Admin Fee, Apakah Website Toko Online Pribadi Bisa Jadi Solusi?
Artikel Bisnis Digital Tips Marketingwirausahanesia.com - Tahun 2026 belum genap enam bulan, tapi sudah banyak pera pelaku usaha yang saling mengungkapkan keluhan. Salah satunya datang dari rekan-rekan yang membuka toko dan berjualan di toko online Shopee karena tingginya kenaikan biaya admin yang dibebankan kepada penjual.
Data menyebut admin fee untuk penjual Shopee reguler dari 9,5-10% sedangkan untuk Shopee Mall 11%+1,8% untuk payment fee.
Hal ini jelas sangat memberatkan bagi penjual, karena marging keuntungan banyak terpotong biaya admin. Belum lagi jika harus membuat promo berupa diskon juga dibebankan kepada seller.
Kalau ditanya, apa sebabnya ecomerce menaikkan admin fee? jawabannya ya karena sudah saatnya mereka mencari untung. Hal ini juga dilakukan oleh aplikasi ojek online yang juga sudah melakukan hal yang sama.
Bak makan buah simalakama, para seller ini dibuat tak punya pilihan. Berjualan terus di Shopee keuntungan semakin sedikit karena besarnya admin fee, menaikkan harga ada potensi ditinggal pembeli, meninggalkan Shopee nyatanya toko orange masih jadi salah satu toko online yang paling banyak pembelinya dibanding dengan Tokopedia, Lazada hingga Blibli.
Tentang apa yang sedang terjadi, faktanya hal ini tidak hanya dilakukan oleh Shopee dan sudah dilakukan platform besar seperti Amazon dan Google.
Dalam konteks ecomerce global Amazon mereka melakukan kloning terhadap produk yang laris, mendata produk tersebut kemudian membuat merk serupa dan diprioritaskan dalam pencarian produk.
Google melakukan hal yang kurang lebih sama, dahulu menampilkanhasil pencarian organik, kemudian sekarang memprioritasin ads di urutan atas hasil mesin pencari.
Kalau diperhatikan sejak kemunculan pertamanya, strategi yang bisa dibaca dipratikan oleh Shopee adalah:
Pada tahap pertama, mereka melakukan promosi besar-besaran dengan istilah "Bakar Uang"
Pada tahap pertama, mereka melakukan promosi besar-besaran dengan istilah "Bakar Uang"
memberikan gratis ongkir, diskon besar, admin fee kecil. Hal ini membuat penjual beramai-ramai masuk. Dari sisi pembeli strategi ini sangat disukai karena bisa belanja apapun dengan harga yang murah. Pelan tapi pasti kompetitor seperti Lazada, Tokopedia dengan sendirinya akan ditinggalkan oleh pembeli karena tidak mampu bersaing dalam hal diskon.
Tahap kedua, mendominasi. Secara alami kompetitor yang kehabisan uang untuk bersaing akan berguguran di tengah jalan. Sebut saja Matahari Mall, Qlapa, Bukalapak yang harus tutup atau ganti jenis usaha bahkan sekelas Tokopedia harus merger dengan TikTok Shop.
Tahap Ketiga, membuat penjual bergantung hanya dengan satu plaform sehingga saat komponen biaya dinaikkan seperti admin fee dan biaya lain diterapkan walau mencekik seller dibuat tidak punya pilihan, tutup toko atau tetap bertahan dengan fakta bahwa Shopee masih menjadi plarform toko online dengan traffic besar.
Apakah Website Toko Online Pribadi Bisa Jadi Solusi?
Jawaban singkatnya bisa!
Tapi prosesnya tidak semudah yang dibayangkan, pemilik usaha harus membuat website berbasis toko online lengkap dengan fitur keranjang, diskon, pengihitungan biaya pengiriman, tracking pengiriman dan lain sebagainya. Proses ini tidaklah mudah dan butuh dana besar, tidak sesederhana saat menggunakan platform Shopee yang pendafataran, upload produk hingga pembayarannya bisa dengan mudah dilakukan.
Belum lagi biaya pengembangan, perawatan dan sumber daya manusia yang menanganinya butuh dana yang besar juga.
Alternatifnya bisa menggunakan website sekala UMKM yang lebih sederhana, namun lagi-lagi butuh proses pembelajaran dan adaptasi yang tidak bisa sehari-dua hari.
Jika dilihat dari sisi pembeli juga butuh waktu untuk membiasakan diri. Jika sebelumnya cukup menggunakan satu aplikasi untuk belanja online aneka barang kebutuhan, dengan migrasi para penjual berjualan dengan website toko online masing-masing artinya harus mengunjungi web yang berbeda, daftar akun di mana-mana belum lagi jika tiap toko online yang berbeda membuat aplikasi yang berbeda, harus menginstall banyak app akan membuat enggan.
Tentu saja, dalam hal diskon dan free ongkir tidak semua web toko online bisa memberikannya dan belanja online mungkin tidak akan semenarik dulu lagi.
Sebagai penutup, terlepas dari polemik admin fee di toko online yang naik pada dasarnya jika kita memiliki usaha baik dalam bentuk produk atau jasa, wajib hukumnya memiliki toko online sendiri sebagai rumah besar utama.
Pada dasarnya ecommerce adalah stand bazar, bukan tempat utama berjualan sehingga jika terjadi perubahan kebijakan seperti sekarang penjual tidak kelimpungan.
Hal yang sama juga bisa saja terjadi pada sosial media. Banyak pemilik produk dan jasa hanya mengandalkan akun sosial media tertentu seperti Instagram dan TikTok sebagai satu-satunya akun official utama. Bayangkan jika perubahan kebijakan terjadi atau tiba-tiba Komdigi blokir sosial media yang ada, maka tamatlah sudah.
Maka dalam hal ini memilki website sendiri untuk perusahaan dan usaha yang kita miliki adalah hal wajib sebagai rumah besar kita di dunia digital.
Semoga bermanfaat sampai jumpa.
Referensi: Akun Twitter @sequencetraders













