Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Dampingi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan Pengelolaan Aset Guna Tingkatkan Potensi Desa Celep

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Dampingi Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan Pengelolaan Aset Guna Tingkatkan Potensi Desa Celep




wirausahanesia.comCELEP, SRAGEN, 6 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Celep melaksanakan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani dan ternak Desa Celep dalam mengembangkan pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sekaligus memperkuat pengelolaan ekonomi dan administrasi kelompok. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (6/8) di Pendopo Balai Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen.

Kegiatan multidisiplin tersebut terdiri atas Pelatihan dan Pendampingan Tata Kelola Administrasi BUMDes serta Pelatihan dan Pendampingan Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Peternakan Menuju Pertanian Berkelanjutan. Kegiatan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dengan menggabungkan aspek teknologi pengolahan limbah, pengelolaan usaha, dan administrasi dalam mendukung potensi pertanian Desa Celep.

Salah satu mahasiswa yang terlibat, Arfa Dhia Hanania dari Program Studi Akuntansi Perpajakan, memberikan pendampingan yang berfokus pada perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pengenalan pajak untuk UMKM, serta pendampingan pencatatan aset Gapoktan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu kelompok tani memahami nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan sekaligus meningkatkan keteraturan administrasi kelompok.

Pendampingan diawali dengan pengenalan konsep Harga Pokok Produksi (HPP). Peserta diajak mengidentifikasi berbagai biaya yang diperlukan dalam menghasilkan suatu produk, mulai dari bahan yang digunakan hingga biaya pendukung produksi. Setelah komponen biaya diidentifikasi, peserta kemudian didampingi untuk menghitung total biaya produksi dan menentukan HPP secara sederhana berdasarkan contoh produk yang dihasilkan dalam kegiatan pemanfaatan limbah.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai cara menghitung biaya produksi, tetapi juga dapat mengetahui berapa biaya yang sebenarnya diperlukan untuk menghasilkan suatu produk. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi kelompok dalam mempertimbangkan harga jual produk apabila hasil pengolahan limbah nantinya dikembangkan menjadi kegiatan yang bernilai ekonomi.

Setelah pendampingan HPP, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan pajak UMKM secara sederhana. Materi disampaikan dengan menghubungkan kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat dengan aspek perpajakan yang mungkin muncul ketika kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha. Pendekatan ini dilakukan agar peserta dapat memahami bahwa pencatatan dan perhitungan usaha merupakan bagian penting dalam mempersiapkan pengelolaan usaha yang lebih tertib.

“Kami ingin pendampingan ini dimulai dari hal yang paling dekat dengan kegiatan kelompok, yaitu menghitung biaya produksi dan HPP. Setelah mengetahui biaya produksinya, masyarakat bisa lebih mudah memahami bagaimana menentukan nilai jual dan mengenal aspek perpajakan apabila kegiatan tersebut nantinya berkembang menjadi usaha,” ujar Arfa.

Selain aspek perhitungan dan perpajakan, Arfa juga melakukan pendampingan pengisian Kartu Inventaris Aset Gapoktan. Peserta diarahkan untuk mendata aset dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan kelompok, termasuk alat komposter yang digunakan dalam proses pemanfaatan limbah. Pendataan dilakukan dengan mencatat informasi seperti nama aset, jumlah, kondisi, lokasi penyimpanan, serta keterangan lain yang diperlukan.

Pendataan inventaris tersebut diharapkan dapat membantu Gapoktan mengetahui aset yang dimiliki, memantau kondisi peralatan, serta mengurangi risiko aset tidak terdata atau tidak terpantau penggunaannya. Kartu inventaris juga dirancang agar dapat digunakan kembali oleh kelompok dalam melakukan pembaruan data secara berkala.

Pada rangkaian kegiatan lainnya, mahasiswa dari bidang saintek memberikan pendampingan dalam pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan melalui pengolahan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Kolaborasi tersebut mempertemukan aspek produksi dan teknologi pengolahan dengan aspek perhitungan ekonomi dan administrasi, sehingga hasil kegiatan tidak hanya berhenti pada pembuatan produk.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berharap Gapoktan Desa Celep dapat menerapkan perhitungan HPP secara sederhana dalam kegiatan produksi, memiliki pemahaman awal mengenai aspek perpajakan ketika usaha berkembang, serta melanjutkan pencatatan aset secara berkala. Dengan demikian, pemanfaatan potensi limbah pertanian dan peternakan dapat didukung oleh pengelolaan ekonomi dan administrasi yang lebih tertib.


Penulis/Reporter: Arfa Dhia Hanania
Fotografer: Marshanda Kinanti
Kontak Media: afadhiah2@gmail.com 
Editor: Achmad Munandar