Mahasiswi KKN Universitas Diponegoro Perkenalkan Filosofi Mottainai (もったいない) untuk Bangun Budaya Hidup Hemat dan Minim Limbah di Desa Celep

Mahasiswi KKN Universitas Diponegoro Perkenalkan Filosofi Mottainai (もったいない) untuk Bangun Budaya Hidup Hemat dan Minim Limbah di Desa Celep




wirausahanesia.comSragen, 6 Agustus 2026 - Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro Tahun 2026, Shafa Nur Alliyah, melaksanakan program kerja multi disiplin II berupa “Sosialisasi Budaya Mottainai (もったいない) sebagai Pendekatan Kultural dalam Membangun Kesadaran Hidup Hemat dan Minim Limbah” bagi  warga Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini digelar di Balai Desa Celep dan diikuti oleh para kelompok tani.

Program ini lahir karena melihat potenis – potensi limbah pertanian seperti kotoran kambing dan sekam padi, kemudian melihat limbah rumah tangga seperti air cucian beras. Melihat hal ini kemudian Tim KKN desa Celep berkolaborasi dalam pemanfaatan kulit bawang merah sebagai pestisida, lalu pemanfaatan air cucian beras dan kotoran kambing menjadi POC (pupuk organik cair), kemudian pembuatan briket dari sekam Padi. 

Berangkat dari persoalan tersebut, Shafa memilih pendekatan yang berbeda dari sosialisasi lingkungan pada umumnya: bukan sekadar imbauan “jangan boros” atau “jangan buang sampah sembarangan”, melainkan memperkenalkan sebuah nilai budaya dari Jepang yang disebut Mottainai.


Mengenal Mottainai, Filosofi Hidup Hemat dari Jepang
Mottainai (もったいない) adalah ungkapan dalam bahasa Jepang yang secara kasar berarti “sayang sekali” atau “terlalu berharga untuk disia-siakan”. Ungkapan ini biasa diucapkan orang Jepang ketika melihat sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan justru dibuang begitu saja, baik itu makanan, barang, waktu, maupun tenaga. 

Menurut penjelasan Shafa dalam sosialisasi tersebut, nilai Mottainai umumnya dirangkum dalam empat prinsip yang saling berkaitan: Reduce (mengurangi pemakaian berlebih), Reuse (memakai kembali barang yang masih layak), Recycle (mendaur ulang), dan Respect (menghormati/menghargai nilai suatu barang atau sumber daya).

Melalui sosialisasi ini, Shafa berupaya menunjukkan bahwa kesadaran hidup hemat dan rendah limbah tidak harus dibangun lewat aturan atau larangan yang terkesan menggurui, tetapi bisa ditumbuhkan lewat pendekatan kultural yang lebih membumi dan mudah diterima secara emosional oleh warga.


Jalannya Kegiatan
Sosialisasi dikemas dalam bentuk dengan media penjelasan melalui power point, dilengkapi dengan media berupa leaflet yang berisikan budaya Mottainai dan pemanfaatannya di lingkungan sekitar. Peserta diajak melihat ulang kebiasaan rumah tangga masing-masing, misalnya menghitung berapa banyak sisa makanan yang biasa terbuang dalam sepekan, atau barang-barang di rumah yang sebenarnya masih bisa diperbaiki dan dipakai kembali alih-alih langsung dibuang. Beberapa warga turut berbagi pengalaman soal kebiasaan hemat yang sudah lama mereka terapkan secara turun-temurun, yang oleh Shafa dikaitkan kembali dengan semangat Mottainai.


Harapan Keberlanjutan
Melalui program ini, Shafa berharap warga Desa Celep tidak hanya memahami istilah Mottainai secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kebiasaan sehari-hari -  mulai dari memilah sampah rumah tangga, mengelola sisa makanan, hingga lebih bijak dalam berbelanja dan menggunakan barang. Program ini juga diharapkan dapat mendukung upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production).

Sebagai tindak lanjut, leaflet kebudayaan Mottainai diberikan kepada para kelompok tani agar dapat terus diakses dan dibaca ulang oleh warga meski kegiatan sosialisasi telah usai.


Penulis: Shafa Nur Alliyah (Mahasiswi KKN Tim II Universitas Diponegoro 2026)
Lokasi KKN: Desa Celep, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
Editor: Achmad Munandar

#KKNUndip #P2KKN #LPPMUndip #Undip2026 #DesaCelep #Mottainai #HidupHemat #MinimLimbah